Orang Tua Diminta Perketat Pendampingan Anak di Era Digital

  • 20 Sep 2026 20:23 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Perkembangan teknologi dan sains yang begitu pesat saat ini membawa kemudahan di berbagai aspek kehidupan, namun di sisi lain juga menjadi tantangan besar bagi masa depan generasi muda. Tanpa pengawasan dan fondasi moral yang kuat, kemajuan teknologi berpotensi mengikis nilai-nilai etika anak di tengah arus modernisasi.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag., menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak bisa dilepaskan dari peran utama keluarga. Menurutnya, pendidikan akhlak dan kepribadian anak harus dimulai sejak dini, bahkan jauh sebelum anak tersebut lahir ke dunia melalui persiapan yang matang di dalam rumah tangga.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag. dalam Siaran Titian Illahi Pro 1 RRI Makassar.

Dalam pandangannya, proses pembinaan tersebut dimulai dari kehalalan asupan yang dikonsumsi oleh keluarga, termasuk menjaga makanan yang halal dan thayyib sejak masa kehamilan seorang ibu. Rasulullah SAW pun telah mengingatkan bahwa daging yang tumbuh dari barang haram menjadikan neraka lebih utama baginya, yang secara langsung berpengaruh terhadap kepekaan spiritual anak.

“Pendidikan pembinaan akhlak haruslah dimulai dari keluarga. Orang tua dan lingkungan keluarga sangat menentukan arah dan kepribadian anak ke depan,” ujar Prof. Rahmi dalam program Titian Ilahi Pro 1 RRI Makassar, Minggu (20/09/2026).

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak gagap teknologi (gaptek) agar mampu mendampingi anak-anak dalam menggunakan gawai dan perangkat canggih lainnya. Pendampingan tersebut diperlukan agar teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan (AI), dimanfaatkan secara positif untuk menunjang proses belajar, bukan justru menjerumuskan anak pada hal-hal negatif.

Selain pengawasan teknologi, Prof. Rahmi mengajak para orang tua untuk kembali menghidupkan komunikasi yang hangat di dalam rumah. Orang tua disarankan untuk memposisikan diri sebagai teman sekaligus tempat curhat yang nyaman bagi anak, sehingga segala permasalahan yang dihadapi anak di luar rumah dapat diketahui dengan baik.

Pihaknya juga mendorong agar nilai-nilai budaya lokal yang beretika, seperti budaya mappatabe (menghormati yang tua dan menyayangi yang muda), kembali diterapkan di lingkungan keluarga. Dengan sinergi yang kuat antara orang tua, lembaga pendidikan, dan masyarakat, diharapkan lahir generasi masa depan yang cerdas secara intelektual sekaligus berakhlak mulia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....