Dana Punia jadi Wujud Ketulusan dan Kepedulian Sosial
- 13 Mei 2026 20:42 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, MAKASSAR – Dana punia dalam ajaran Hindu tidak hanya dimaknai sebagai pemberian berupa materi, tetapi juga sebagai bentuk ketulusan, kepedulian, dan rasa syukur kepada sesama. Hal tersebut disampaikan narasumber I Nyoman P. Wiracita, S.E., Ketua DPC Prajaniti Kota Makassar, dalam program “Hindu Dharma” PRO1 RRI Makassar, Rabu 13 Mei 2026.
Dalam dialog tersebut, I Nyoman menjelaskan bahwa dana punia berasal dari dua kata, yaitu “dana” yang berarti pemberian dan “punia” yang berarti selamat, bahagia, sehat, dan suci. Menurutnya, dana punia merupakan pemberian yang dilakukan secara tulus ikhlas tanpa pamrih. “Dana punia itu bukan hanya soal uang atau barang, tetapi bagaimana seseorang memberi dengan hati yang tulus dan niat yang baik,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa konsep dana punia memiliki landasan kuat dalam sastra Weda. Salah satunya tertuang dalam Atharwa Weda yang menyebutkan bahwa dana punia merupakan anugerah bagi penerimanya.
Selain itu, dalam Mahabharata disebutkan bahwa dana punia termasuk bentuk tapa atau pengendalian diri yang paling tinggi apabila dilakukan dengan ketulusan. Menurut I Nyoman, dana punia terdiri atas beberapa bentuk. Pertama, Dharma Dana, yaitu pemberian berupa ajaran moral dan budi pekerti luhur.
Kedua, Widya Dana, yakni pemberian dalam bentuk ilmu pengetahuan dan pendidikan. Ketiga, Arta Dana, yaitu pemberian berupa materi atau bantuan finansial.

Ia mencontohkan bahwa menghormati orang tua, membantu kegiatan sosial, berbagi ilmu pengetahuan, hingga ikut bergotong royong di lingkungan masyarakat juga termasuk bentuk dana punia. “Kadang orang berpikir punia hanya soal materi, padahal tenaga, pengetahuan, dan sikap hormat kepada sesama juga bagian dari punia,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa dana punia dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, seperti saat hari raya keagamaan, kegiatan sosial, hingga membantu korban bencana alam maupun tetangga yang membutuhkan bantuan. Menurutnya, kebiasaan berbagi akan menumbuhkan rasa peduli, rasa syukur, sekaligus mengurangi sifat serakah dalam diri seseorang.
Ia menilai, berbagi dengan jalan yang benar juga menjadi bagian dari pelaksanaan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari. “Dengan berbagi, kita belajar bahwa rezeki bukan hanya milik diri sendiri. Ada hak orang lain di dalamnya yang perlu kita salurkan dengan tulus,” jelasnya.
Di akhir dialog, I Nyoman mengajak umat Hindu untuk terus membangun semangat dana punia sebagai bentuk bakti dan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....