Peran Strategis Pendidikan Agama dalam Menciptakan Kehidupan yang Toleransi

  • 08 Mei 2026 18:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Program Titian Ilahi PRO1 RRI Makassar kembali menghadirkan dialog yang membahas nilai-nilai kehidupan beragama di tengah masyarakat majemuk. Pada edisi Jumat, 8 Mei 2026, tema yang diangkat yakni “Peran Strategis Pendidikan Agama Dalam Menciptakan Kehidupan yang Toleransi” yang menghadirkan narasumber Dr. H. Muhammad, S.Ag., M.Ag. (Kepala Kantor Kemenag Kota Makassar) dan dipandu oleh penyiar Arfan Yusri.

Dalam dialog tersebut, Dr. H. Muhammad menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peranan penting dalam membentuk karakter masyarakat yang menghargai perbedaan. “Pendidikan agama tidak hanya mengajarkan tentang ibadah semata, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara damai. Pendidikan agama harus menjadi pondasi dalam membangun akhlak dan sikap toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menghargai hak setiap individu untuk menjalankan agamanya masing-masing. “Pemahaman agama yang baik justru akan melahirkan pribadi yang santun dan terbuka terhadap perbedaan. Orang yang memahami ajaran agamanya dengan benar tidak akan mudah membenci ataupun merendahkan pemeluk agama lain,” kata Dr. H. Muhammad.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan nilai toleransi kepada anak. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan contoh sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, sekolah dan lembaga pendidikan juga diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran agama yang menyejukkan dan moderat. Dalam dialog tersebut, Dr. H. Muhammad juga menyoroti pentingnya peran guru dan tokoh agama dalam menjaga persatuan bangsa.

Menurutnya, para pendidik harus mampu menjadi teladan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang damai dan tidak provokatif. “Guru agama dan tokoh masyarakat harus menjadi jembatan pemersatu, bukan justru memperuncing perbedaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa di era digital saat ini, masyarakat perlu lebih bijak dalam menerima informasi keagamaan di media sosial. “Banyaknya informasi yang belum tentu benar dapat memicu kesalahpahaman dan konflik apabila tidak disikapi dengan baik. Karena itu, pendidikan agama yang kuat dinilai penting agar masyarakat memiliki kemampuan menyaring informasi secara bijaksana,”tambahnya.

Beliau juga mengajak pendengar untuk terus memperkuat nilai persaudaraan dan menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Makassar. Di akhir perbincangan, Dr. H. Muhammad berharap masyarakat dapat menjadikan pendidikan agama sebagai sarana mempererat persatuan bangsa.

“Toleransi harus dimulai dari lingkungan terkecil hingga kehidupan bermasyarakat secara luas. Jika pendidikan agama mampu melahirkan generasi yang berakhlak dan menghargai perbedaan, maka kehidupan yang damai dan harmonis akan semakin mudah terwujud,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....