Kolaborasi Multisektor Jadi Kunci Utama Tangani Stunting Sulsel
- 08 Mei 2026 15:58 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Penanganan stunting memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan berbagai sektor pembangunan di masyarakat. Kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci utama agar intervensi tidak hanya menyentuh aspek medis, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi secara menyeluruh.
Plt. Kepala Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Nurseha dalam program Indonesia Cerdas pada Jumat, 8 Mei 2026 mengatakan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan hasil kolaborasi multisektor. Di Sulawesi Selatan, hal ini diwujudkan melalui transformasi Posyandu berdasarkan Permendagri Nomor 13, yang kini mencakup enam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Karena stunting ini bukan cuman urusannya di sektor kesehatan, tapi urusan semuanya ada permendagri Nomor 13 terkait dengan posyandu, terkait dengan posyandu. Posyandu itu bukan hanya bidang kesehatan, tapi ada bidang pendidikan, ada bidang sosial, ada bidang yang tentunya semuanya akan berkolaborasi mulai dari tingkat paling dasar posyandu. Sehingga, semua bidang itu berkolaborasi mulai dari bawah jadi ada namanya posyandu 6 SPM,” jelas Nur- sapaan akrabnya.
Saat ini, di sektor kesehatan, pemantauan status gizi kini dilakukan melalui aplikasi e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat). Sistem ini memungkinkan Puskesmas mendata masalah gizi, seperti stunting dan gizi buruk, secara akurat berdasarkan nama dan alamat (by name by address).
Selain inovasi digital, pemerintah juga memperkuat gerakan promotif melalui Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang dikolaborasikan dengan program "Anti Mager". Serta, penyediaan layanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil dan kepulauan.
Diakui Nur, tantangan terbesar dalam pencegahan stunting bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan mengubah perilaku dan budaya masyarakat. Melalui pendekatan "Tahu, Mau, dan Mampu", Dinas Kesehatan berupaya memastikan masyarakat tidak hanya terpapar informasi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mempraktikkan hidup bersih.
“Sudah dapat informasi tapi belum tentu dia lakukan. Jadi, ketika dia mau artinya dia sudah melakukan dan ketika dia tahu manfaatnya, baru dia mampu. Mampu artinya dia bisa mengajak mengajak keluarga sekitarnya, mengajak teman-temannya, untuk berperilaku hidup bersih sehat,” lanjut Nur.
Sebagai langkah nyata, masyarakat diimbau untuk tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi melalui prinsip "Isi Piringku", tetapi juga konsisten dalam menjalankan perilaku hidup bersih. Keberhasilan penanganan stunting di Sulawesi Selatan sangat bergantung pada kolaborasi aktif antara kebijakan pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....