Tantangan Budaya dan Cuaca Ekstrem dalam Mitigasi Bencana

  • 02 Mei 2026 04:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Kabupaten Pangkep merupakan daerah unik dengan topografi tiga dimensi yang mencakup wilayah kelautan, daratan, dan pegunungan, di mana 93% wilayahnya merupakan perairan. Kondisi geografis yang sangat luas ini, dengan 117 pulau yang berbatasan langsung dengan berbagai provinsi, menciptakan risiko kebencanaan yang sangat tinggi, terutama akibat cuaca ekstrem dan angin kencang yang sering menyebabkan kecelakaan laut serta kerusakan pemukiman di wilayah pesisir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangkep, Akbar Yunus kepada RRI, mengungkapkan bahwa mitigasi risiko kecelakaan laut di wilayah perairan dilakukan dengan memberikan imbauan melalui pemerintah setempat dan otoritas bandar udara untuk melarang nelayan melaut saat cuaca buruk. Papan peringatan elektronik juga telah dipasang di pelabuhan sebagai bentuk peringatan dini.

“Jadi untuk mitigasi terkait dengan risiko kebencanaan di wilayah perairan, ini kan terkait dengan kapal tenggelam. Jadi kami sudah punya di pelabuhan-pelabuhan kami sudah menyampaikan ke pemerintah dan syahbandar untuk melarang nelayan untuk melakukan aktivitas nelayan,” ujar Akbar. Sabtu, 02 Mei 2026.

Akbar mengungkapkan kendala utama di lapangan yaitu pada faktor budaya dan pola pikir masyarakat. Banyak nelayan tetap melaut demi mencari nafkah tanpa menyadari bahaya arus laut.

Selain itu, terdapat kepercayaan lokal yang menganggap penggunaan pelampung justru dapat mengundang petaka (bala). Keyakinan akan kemampuan bertahan hidup (survival) yang tinggi di laut juga membuat mereka sering mengabaikan prosedur keselamatan, sehingga edukasi lebih lanjut diperlukan untuk mengubah pola pikir tersebut.

“Hampir semua nelayan-nelayan perusahaan kami itu tidak mau menggunakan pelampung dengan alasan bahwa itu mengundang bala ini juga salah satu hambatan. Ini adalah local wisdom yang barangkali perlu ada edukasi tersendiri dari kami untuk menyampaikan gimana sih merubah pola pikir itu,” jelas Akbar.

Untuk mengatasi hal ini, BPBD Pangkep secara rutin memperbarui dan menyebarkan informasi cuaca dari BMKG melalui grup WhatsApp serta memanfaatkan sistem deteksi dini (early warning system). Meski demikian, tantangan utama tetap pada kesadaran masyarakat yang terkadang mengabaikan peringatan cuaca karena faktor kebiasaan atau kebutuhan ekonomi. Saat ini, edukasi terus dilakukan untuk merespons perubahan cuaca ekstrem dan fenomena iklim seperti El Nino agar masyarakat lebih waspada dan peduli pada keselamatan diri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....