Makna Hari Kartini Hidup dalam Jejak Guru Besar Unismuh Makassar
- 22 Apr 2026 08:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2026 tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi ruang refleksi mendalam tentang sejauh mana cita-cita emansipasi perempuan masih hidup dalam kehidupan nyata, khususnya di lingkungan akademik.
Di Universitas Muhammadiyah Makassar, makna tersebut tercermin dalam perjalanan para guru besar perempuan yang menapaki dunia akademik melalui proses panjang, penuh tantangan, serta pengorbanan yang tidak ringan dalam menyeimbangkan peran profesional dan personal.
Bagi Eny Syatriana, Hari Kartini menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki ruang luas untuk berkontribusi di tingkat lokal maupun global tanpa harus kehilangan nilai dan jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat.
“Kartini telah membuka jalan bahwa perempuan tidak boleh dibatasi oleh stereotip, melainkan harus diberi ruang untuk berkembang, berkarya, dan memberi manfaat,” ujarnya saat dikonfirmasi pada 21 April 2026.
Pandangan serupa disampaikan Ratnawati Tahir yang menilai bahwa perempuan saat ini mampu tampil di ruang publik dengan kekuatan dan kapasitasnya sendiri, tanpa bergantung pada belas kasihan, melainkan melalui kegigihan dan kerja keras.
“Perempuan mampu tampil dengan kegigihannya sendiri bukan karena dikasihani, melainkan karena mampu menduduki berbagai posisi strategis,” katanya.
Sementara itu, Nurlina menilai capaian sebagai guru besar bukan sekadar prestasi akademik, tetapi simbol perjuangan panjang, emansipasi, serta tanggung jawab sosial yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran.
“Bagi saya, guru besar bukan sekadar pencapaian, melainkan simbol perjuangan dan tanggung jawab sosial,” tuturnya.
Dalam refleksi yang lebih luas, Nurlina Subair menegaskan bahwa pendidikan merupakan wujud nyata dari perjuangan Kartini, di mana perempuan tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga produsen pengetahuan yang berperan dalam pengembangan akademik.
Ia bahkan membagikan pengalaman pribadi saat harus berjuang melawan penyakit serius di tengah perjalanan akademiknya, namun tetap mampu menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar tertinggi berkat tekad dan konsistensi yang kuat.
“Keberhasilan adalah bukti bahwa tekad mampu melampaui keterbatasan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Syamsia dan Andi Tenri Ampa yang menilai bahwa perjalanan perempuan menuju posisi profesor tidak hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang ketahanan, disiplin, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara tuntutan profesional dan kehidupan pribadi.
Di sisi lain, Nuryanti Mustari menekankan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam membentuk perempuan yang berdaya, bermartabat, dan mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan masyarakat.
Sementara Munirah mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meraih gelar, tetapi juga membangun cara berpikir kritis, integritas, serta karakter yang kuat sebagai fondasi kehidupan.
Refleksi para guru besar tersebut juga memperlihatkan bahwa perjalanan menuju puncak akademik tidaklah mudah, karena diwarnai dengan berbagai tantangan seperti keterbatasan waktu, beban ganda, hingga dinamika kebijakan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan konsistensi.
Namun demikian, seluruh pengalaman tersebut justru memperkuat makna Kartini sebagai sosok yang tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi hidup dalam semangat perjuangan perempuan masa kini yang terus bergerak dan berkembang.
Melalui refleksi ini, Universitas Muhammadiyah Makassar menegaskan bahwa emansipasi perempuan tidak berhenti pada kesetaraan formal, tetapi juga mencakup pembangunan karakter, penguatan ilmu pengetahuan, serta kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Dengan demikian, Hari Kartini tidak hanya menjadi momentum peringatan, tetapi juga pengingat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun masa depan melalui pendidikan, keteguhan, dan pengabdian yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....