Festival Kue Bulan, Momentum Memperkuat Bakti dan Keharmonisan
- 20 Sep 2026 20:09 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Festival Kue Bulan atau Zhongqiu Jie tidak sekadar menjadi tradisi budaya masyarakat Khonghucu, tetapi juga memiliki makna filosofis tentang rasa syukur, bakti kepada keluarga, serta keharmonisan dalam kehidupan. Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Makna tersebut disampaikan Erfan Sutono Nio, S.Ft., Physio., M.H., Tokoh Muda Khonghucu sekaligus Wakil Sekretaris FKUB Kota Makassar, dalam program Mimbar Agama Khonghucu RRI Makassar, Sabtu (19/9/2026), bersama host Arvan Yusri. Ia menjelaskan, Festival Kue Bulan diperingati setiap tanggal 15 bulan delapan dalam penanggalan Tionghoa, ketika bulan tampak penuh atau purnama.
Menurut Erfan, secara historis perayaan tersebut berkaitan dengan ungkapan syukur atas berkah panen sekaligus penghormatan terhadap bumi yang memberikan kehidupan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul, mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, serta membangun kehidupan keluarga yang harmonis. Tradisi sembahyang kepada leluhur turut menjadi bagian dari perayaan sebagai wujud xiao atau perilaku bakti.
“Bakti itu bagaimana kita meneruskan cita-cita luhur dari orang tua dan leluhur. Jadi bukan hanya sekadar melakukan sembahyang, tetapi bagaimana nilai-nilai kebajikan yang mereka ajarkan bisa kita lanjutkan dalam kehidupan,” jelas Erfan.
Salah satu simbol yang paling dikenal dalam perayaan ini adalah kue bulan. Bentuknya yang bulat dimaknai sebagai simbol kesempurnaan dan persatuan, khususnya dalam hubungan keluarga. Meskipun jenis dan isian kue bulan terus berkembang mengikuti perubahan zaman, menurut Erfan, perkembangan tersebut tidak menghilangkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
Lebih jauh, Festival Kue Bulan juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri. Umat diajak mempertanyakan kembali apakah dalam kehidupan sehari-hari sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik dan menjalankan kebajikan. Nilai tersebut kemudian diperluas dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk bagaimana menjaga harmoni dengan Tuhan atau Tian, sesama manusia, serta alam sekitar di tengah keberagaman Indonesia.
Di era teknologi digital, bentuk perayaan juga mengalami perubahan. Jika dahulu keluarga berkumpul secara langsung di halaman rumah untuk menikmati suasana malam Festival Kue Bulan, kini teknologi memungkinkan anggota keluarga yang berada di tempat berbeda tetap terhubung melalui komunikasi virtual. Bagi Erfan, perubahan cara merayakan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai utama yang diwariskan.
Erfan berharap generasi muda tidak hanya mengenal Festival Kue Bulan dari kue dan kemeriahan perayaannya, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya. “Semangat bakti, persatuan, rasa syukur, introspeksi, dan menjaga keharmonisan menjadi nilai yang tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tradisi tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi terus hidup melalui perilaku generasi penerus,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....