Teladan Semangat Dorongan Pilar Harmoni Sosial Bugis Makassar

  • 07 Apr 2026 23:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar- Konsep teladan, semangat, dan dorongan telah lama menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan sosial masyarakat, khususnya dalam budaya Bugis-Makassar. Nilai-nilai ini tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga terus relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Menurut Dr. M. Dalyan Tahir, dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dalam obrolan Apresiasi Budaya Lokal di Pro 4 RRI Makassar, pada hari senin 6 April 2026, bahwa ketiga konsep tersebut sejatinya merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam membentuk struktur sosial yang kuat.

“Dalam falsafah Bugis-Makassar, nilai teladan, semangat, dan dorongan dikenal melalui prinsip Rioloi Napatiroang, Ritengnga Naparaga-raga, Rimunri Napaampiri. Ini bukan sekadar ungkapan, tetapi pedoman hidup yang telah menjaga keseimbangan sosial masyarakat sejak dahulu,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa teladan berperan sebagai arah utama. Seorang pemimpin atau tokoh masyarakat dituntut untuk menjadi contoh yang baik dalam tindakan maupun ucapan. Keteladanan ini menciptakan kepercayaan dan menjadi dasar legitimasi sosial dalam masyarakat.

Sementara itu, semangat menjadi penggerak kolektif. Dalam kehidupan sosial, semangat berfungsi untuk menjaga kebersamaan, memperkuat solidaritas, serta mendorong masyarakat untuk tetap aktif berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan.

Adapun dorongan berfungsi sebagai penguat dari belakang. Nilai ini mencerminkan pentingnya dukungan sosial, baik dalam bentuk motivasi maupun bantuan nyata, agar setiap individu mampu berkembang dan tidak merasa berjalan sendiri.

Lebih lanjut, Dr. M. Dalyan Tahir menekankan bahwa ketiga nilai tersebut menjadi pilar utama karena mampu menciptakan keseimbangan peran dalam masyarakat—ada yang memimpin di depan, menggerakkan di tengah, dan menguatkan dari belakang.

“Struktur ini membuat masyarakat tetap terorganisir secara alami. Tidak ada yang merasa ditinggalkan, karena semua memiliki peran. Inilah yang menjaga tatanan sosial tetap harmonis,” tambahnya.

Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, nilai-nilai ini dinilai semakin penting untuk dipertahankan. Tanpa adanya teladan, semangat, dan dorongan, masyarakat berisiko kehilangan arah, solidaritas, serta rasa saling peduli.

Dengan demikian, konsep ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga solusi sosial yang relevan hingga saat ini. Masyarakat diharapkan mampu terus menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, demi menjaga keharmonisan dan keberlanjutan tatanan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....