Halalbihalal Solusi Kultural Redam Konflik Nasional
- 24 Mar 2026 17:49 WIB
- Makassar
Poin Utama
- Halalbihalal
RRI.CO.ID, Makassar - Tradisi Halalbihalal dinilai menjadi instrumen krusial dalam merajut kembali tali kasih serta kebersamaan masyarakat setelah menuntaskan ibadah di bulan suci Ramadan. Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. K.H. Muammar Bakry, menegaskan bahwa momentum ini merupakan wadah rekonsiliasi sosial yang sangat efektif.
Secara historis, istilah ini lahir dari gagasan para pendiri bangsa, termasuk Presiden Soekarno, yang menerima saran dari ulama kharismatik KH Wahab Hasbullah. Kehadiran tradisi ini semula bertujuan untuk mendinginkan suhu politik nasional yang sedang mengalami fragmentasi tajam pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
“Halalbihalal sebenarnya dicetuskan pertama kali oleh para ulama founding fathers termasuk Bung Karno saat melihat kondisi bangsa yang terpecah karena perbedaan afiliasi politik. Beliau mendatangi para ulama untuk mencari solusi silaturahmi dengan nuansa Lebaran, mengingat pada momen tersebut masyarakat cenderung lebih mudah untuk saling memaafkan,” ujar Prof. Muammar Bakry kepada RRI, Selasa, 24 Maret 2026.
Secara etimologi, makna 'halal' dalam tradisi ini diibaratkan sebagai upaya meluruskan benang yang kusut dalam hubungan antarmanusia. Segala sumbat komunikasi atau kerenggangan perasaan di masa lalu ditarik lurus kembali melalui pertemuan fisik yang hangat dan penuh kekeluargaan.
“Makna halal itu bisa diartikan meluruskan benang yang kusut, sehingga perasaan yang selama ini terbelit beban dapat kembali tenang dan harmonis. Halal juga bermakna mencairkan hati yang membeku akibat ego atau dendam, sehingga suasana yang semula kaku menjadi cair dalam kebersamaan,” lanjutnya menjelaskan.
Lebih jauh, kehadiran seseorang dalam acara Halalbihalal dipandang sebagai simbol komitmen pribadi untuk memberi dan menerima maaf secara tulus. Hal ini menjadi jembatan perdamaian tanpa harus mengungkit kembali detail kesalahan masa lalu yang pernah memicu konflik atau perselisihan.
“Setiap orang yang hadir dalam momentum ini dianggap sudah memiliki kesiapan mental untuk saling memaafkan meski tanpa harus menjelaskan secara rinci kekhilafan masa lalu. Kehadiran fisik tersebut sudah menjadi pernyataan sikap bahwa mereka siap membuka lembaran baru dan membuang jauh rasa benci atau dengki,” tegas Prof. Bakry.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....