Angka Perceraian 2026 Melonjak, Ketahanan Keluarga Mulai Rapuh
- 22 Jun 2026 18:33 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat angka perceraian terjadi peningkatan yang cukup signifikan di awal tahun 2026. Fenomena ini menjadi sinyal kuat adanya krisis akut pada sistem ketahanan keluarga, khususnya di kalangan pasangan usia produktif.
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan PG PAUD Universitas Negeri Makassar, Tri Sugiarti, dalam Program Pengarusutamaan Gender pada Senin 22 Juni 2026 menjelaskan bahwa pergerakan grafik perceraian di Indonesia fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sempat mengalami puncak tertinggi pada tahun 2022, angka perceraian sempat menunjukkan tren penurunan yang positif pada tahun 2024. Namun, optimisme tersebut tidak bertahan lama seiring datangnya gelombang baru kasus perceraian di awal tahun ini.
“Ada beberapa dinamika yang terjadi bagi orang-orang yang memilih untuk melakukan yang namanya perceraian. Jadi, bisa jadi ada beberapa faktor-faktor pemicu yang bisa jadi faktor pemicunya itu berkaitan dengan masalah kembali ke masalah internal atau bahkan bisa jadi pemicunya di masalah eksternal,” ungkap Tri.
Pemicu perceraian tidak lagi didominasi oleh masalah konvensional, melainkan telah bergeser ke arah konflik interpersonal yang berlarut-larut tanpa adanya solusi konkret. Komunikasi yang tersumbat membuat masalah-masalah kecil yang menumpuk akhirnya meledak menjadi konflik besar.
Tri mengungkapkan, ketika sebuah pasangan gagal menemukan jalan keluar meski telah berdiskusi dengan berbagai cara, perceraian sering kali diambil sebagai jalan pintas terakhir. Selain faktor kesiapan mental, riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan angka 78 hingga 79 persen gugatan cerai terjadi akibat adanya perubahan struktural di masyarakat.
Salah satu aspek yang paling menonjol adalah pergeseran agensi perempuan yang didorong oleh meluasnya edukasi mengenai kesadaran hukum dan kesetaraan gender melalui media digital. Status pernikahan kini tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya bentuk validasi sosial mutlak bagi seorang perempuan.
Tri menilai sebab-sebab perceraian kini semakin kompleks seiring perkembangan zaman, termasuk munculnya tren negatif seperti maraknya judi online dan fenomena perselingkuhan digital melalui berbagai aplikasi kencan (dating apps). Masalah ekonomi yang diperparah oleh jeratan utang akibat judi online juga menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa hebat di dalam rumah tangga. Ketika moralitas dan komitmen telah terdistorsi oleh teknologi dan gaya hidup, pondasi kepercayaan antar pasangan akan otomatis runtuh.
"Bahkan juga adalah perselingkuhan digital. Nah, yang mungkin beberapa orang ketika dia tiba-tiba diberitakan oleh temannya bahwa dia menemukan profil pasangannya di salah satu dating apps nah, ini ada yang beberapa seperti itu," jelas Tri.
Lebih lanjut diungkapkan, mayoritas kasus perceraian yang terjadi saat ini didominasi oleh pasangan yang berada pada rentang usia produktif, yaitu antara 25 hingga 33 tahun. Pada usia tersebut, ego dan ekspektasi yang tidak realistis sering kali berbenturan dengan realitas kehidupan rumah tangga yang kompleks. Kurangnya kesiapan mental serta kematangan emosional dalam memikul tanggung jawab bersama disinyalir menjadi akar utama rapuhnya ikatan pernikahan di usia muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....