Sulawesi Selatan Masuki Musim Kemarau Bertahap April 2026

  • 16 Mar 2026 09:56 WIB
  •  Makassar
Poin Utama
  • BMKG

RRI.CO.ID, Makassar – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis Buku Prediksi Musim Kemarau 2026 (PMK26) di Indonesia pada Maret ini. Laporan tersebut memberikan informasi lengkap mengenai prediksi musim kemarau 2026, serta memberikan pemahaman tentang pola curah hujan di Indonesia yang diprediksi akan mengalami transisi musim secara bertahap di berbagai wilayah Zona Musim (ZOM).

Berdasarkan data Buku PMK26, Awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi bersamaan. Dari total 699 Zona Musim (ZOM), sebagian kecil wilayah sudah memasuki periode kering sejak Februari, sementara wilayah lainnya menyusul pada Maret 2026.

Khusus untuk wilayah Sulawesi Selatan, musim kemarau diprediksi akan datang secara bertahap mulai April 2026. Memasuki bulan Mei, wilayah Sulawesi Selatan bagian barat akan mulai merasakan penurunan curah hujan, yang kemudian disusul oleh wilayah lainnya pada bulan Juni. Sebagian besar daratan Sulawesi sendiri diprediksi baru akan sepenuhnya memasuki musim kemarau pada bulan Juli.BMKG juga mencatat adanya fenomena unik di mana Sulawesi Selatan bagian utara justru baru memasuki musim kemarau pada Agustus 2026.

Secara umum, awal musim kemarau di mayoritas wilayah Sulawesi diprediksi datang lebih awal dari biasanya. Kondisi ini diperparah dengan akumulasi curah hujan yang berada pada kategori normal hingga bawah normal, yang berarti cuaca akan terasa lebih kering.

Sebagian besar wilayah Sulawesi akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kecuali, untuk wilayah bagian utara dan timur yang diprediksi baru mencapai puncaknya pada September.

Olehnya itu, BMKG menghimbau untuk wilayah yang memiliki sifat lebih kering dari biasanya untuk membuat strategi pengelolaan sumber daya air sebagai langkah antisipasi. Hal ini karena dapat berdampak pada terganggunya ketersediaan air bagi kebutuhan rumah tangga.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat dihimbau untuk mengadopsi kebiasaan hemat air, seperti menutup keran saat tidak digunakan, menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman, serta memperbaiki kebocoran pipa air agar tidak terjadi pemborosan. Selain penghematan, optimalisasi sumber air alternatif juga menjadi solusi penting dalam menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau, seperti membangun sumur resapan, kolam penampungan air hujan, atau menggunakan 429 teknologi filtrasi sederhana agar air hujan dapat dimanfaatkan kembali.

Terakhir, BMKG menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam melindungi sumber air alami dengan tidak membuang limbah ke sungai atau sumur, serta berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan guna meningkatkan daya serap tanah terhadap air. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan ketersediaan air bagi rumah tangga tetap terjaga, sehingga kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi meskipun dalam kondisi musim kemarau yang berkepanjangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....