Tradisi Asuro Masyarakat Bugis Makassar Menyambut Ramadan

  • 24 Jan 2026 00:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, masyarakat Bugis maupun Makassar kembali menghidupkan berbagai tradisi yang sarat makna spiritual dan budaya. Dua di antaranya yang masih lestari hingga kini adalah tradisi Assuro Maca dan ziarah kubur, yang menjadi bagian dari persiapan batin umat Islam sebelum menjalani ibadah puasa.

Assuro Maca merupakan tradisi membaca doa dan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang biasanya dilaksanakan secara bersama-sama, baik di rumah, masjid, maupun di lingkungan keluarga besar. Tradisi ini bertujuan memohon keselamatan, keberkahan, serta kesiapan lahir dan batin dalam menyambut Ramadhan.

Dalam obrolan acara Ikatte di Pro 4 RRI Makassar, Kamis 22 Januari 2026, Anggota FKP RRI Makassar, Nurhudaeng, menjelaskan bahwa Assuro Maca bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat.

“Assuro Maca mengajarkan kita untuk saling mendoakan, membersihkan hati, dan memperkuat iman sebelum memasuki bulan penuh ampunan. Tradisi ini juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga yang jarang bertemu,” ujar Nurhudaeng.

Nuhudaeng menambahkan, selain Assuro Maca, ziarah kubur juga menjadi tradisi yang tak terpisahkan dalam menyambut Ramadhan. Masyarakat biasanya mendatangi makam orang tua, kerabat, dan keluarga untuk membersihkan makam, menabur bunga, serta mengirimkan doa.

Anggota FKP RRI Makassar lainnya, Hj. Andi Eni, menuturkan bahwa ziarah kubur memiliki nilai pengingat akan kehidupan akhirat. “Ziarah kubur menjelang Ramadhan menjadi pengingat bahwa hidup ini sementara. Dari sana kita belajar untuk lebih bersyukur, memperbaiki diri, dan meningkatkan amal ibadah selama bulan puasa,” kata Hj. Andi Eni. Menurutnya, tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap menghargai nilai-nilai agama dan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.

Meski zaman terus berkembang, Assuro Maca dan ziarah kubur tetap dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang selaras dengan ajaran Islam. Tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai identitas budaya sekaligus penguat nilai spiritual umat Islam dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....