FKUB Makassar Ajak Masyarakat Membangun Moderasi Berkemajuan
- 12 Jun 2026 18:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar - Program Titian Ilahi PRO1 RRI Makassar edisi Jumat, 12 Juni 2026 mengangkat tema “Membangun Moderasi Berkemajuan” sebagai upaya memperkuat nilai-nilai toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Dipandu oleh Arfan Yusri, dialog tersebut menghadirkan narasumber secara daring, yaitu Dr.Ir.Ahmad AC,ST,.MM,.IPM ( Ketua Divisi Advokasi FKUB Kota Makassar).
Dalam pemaparannya, Ahmad menjelaskan bahwa moderasi beragama tidak berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap ajaran agamanya, melainkan bagaimana menjalankan keyakinan tersebut dengan sikap yang bijaksana, menghormati perbedaan, dan tetap menjaga persatuan. Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk terus membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman budaya, suku, dan agama.
“Moderasi berkemajuan adalah cara kita menghadirkan ajaran agama sebagai solusi bagi kehidupan bersama. Beragama dengan teguh, namun tetap menghargai hak dan keyakinan orang lain merupakan fondasi penting dalam menjaga persatuan bangsa,” ujar Ahmad dalam dialog tersebut.
Ia kemudian memaparkan bahwa moderasi beragama memiliki beberapa pilar utama yang harus dipahami masyarakat. Pilar pertama adalah komitmen kebangsaan, yakni menempatkan nilai-nilai kebangsaan dan konstitusi sebagai kesepakatan bersama dalam kehidupan bernegara.
Pilar kedua adalah toleransi, yaitu menghormati hak setiap orang untuk menjalankan keyakinannya tanpa mengganggu keyakinan pihak lain. Pilar ketiga adalah anti-kekerasan, yakni menolak segala bentuk tindakan ekstrem dan penyelesaian masalah melalui kekerasan atas nama agama.
Sementara pilar keempat adalah akomodatif terhadap budaya lokal, yaitu menghargai tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan dapat memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat. Menurut Ahmad, keempat pilar tersebut harus diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.
“Moderasi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam keluarga, sekolah, tempat ibadah, dan ruang-ruang publik. Dengan begitu, nilai-nilai toleransi akan tumbuh secara alami di masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus informasi di media digital yang kerap memunculkan provokasi, ujaran kebencian, hingga penyebaran hoaks yang dapat memicu konflik sosial. Karena itu, masyarakat dituntut untuk memiliki literasi digital yang baik dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Menurutnya, semangat moderasi harus diwujudkan melalui sikap kritis sekaligus bijaksana dalam menggunakan media sosial. Lebih lanjut, Ahmad menilai bahwa membangun moderasi berkemajuan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga pemerintah.
Pendidikan karakter sejak dini dinilai menjadi investasi penting agar generasi muda tumbuh dengan nilai toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan. “Moderasi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam keluarga, sekolah, tempat ibadah, dan ruang-ruang publik,” katanya.
Sebagai penutup dialog, Ahmad mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan moderasi berkemajuan sebagai bagian dari perilaku sehari-hari, bukan sekadar konsep yang dibicarakan dalam forum diskusi. “Mari kita membangun Indonesia dengan semangat saling menghormati, saling menguatkan, dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Ketika moderasi menjadi karakter bangsa, maka kerukunan akan terjaga dan kemajuan akan menjadi milik kita bersama,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....