Pesona Adat Mappacci, Tradisi Suci Bugis
- 01 Okt 2025 14:14 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar: Mappacci adalah nama sebuah upacara adat bugis yang berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Upacara mappacci atau mappaccing berasal dari Bahasa bugis. Kata paccing berarti bersih, yang bertujuan untuk membersihkan diri dari semua hal yang dapat menghambat pernikahan. Upacara yang masih bertahan ini mempunyai Lokasi persebaran.
Dilansir dari wikipedia Prosesi mappacci atau disebut juga tudang penni dilakukan oleh pengantin laki-laki dan Perempuan di rumah masing-masing pada malam hari atau sehari sebelum acara pernikahan. Pada pelaksanaannya, calon mempelai duduk di suatu tempat bersama dengan orang tua di samping kiri maupun kanan.
Sebelum dilaksanakan upacara mappacci, terlebih dahulu dilangsungkan upacara pengambilan pacci atau biasa disebut “ mallekkapacci “ pada sore hari dirumah orang-orang tertentu. Dimasa kini upacara mappacci hanya dilaksanakan satu malam sebelum pernikahan, tetapi zaman dahulu upacara ini dilaksanakan tiga malam secara berurutan dikalangan bangsawan.
Mengutip di GoodNewsFromIndonesia“rangkaian upacara Mappacci dimulai pada malam hari sebelum kedua calon mempelai melangsungkan pernikahannya pada keesokan harinya.” Kutipan ini menegaskan bahwa Mappacci adalah bagian sakral yang tidak dapat dilepaskan dari rangkaian pernikahan tradisional masyarakat Bugis-Makassar.
Selain bermakna sakral, Mappacci juga menjadi ajang kebersamaan keluarga besar. Semua anggota keluarga berperan dalam memberikan restu, sehingga suasana yang tercipta bukan hanya religius, tetapi juga penuh kekeluargaan. Nilai kebersamaan inilah yang membuat tradisi ini tetap relevan di tengah kehidupan modern.
Kini, Mappacci kerap dipadukan dengan unsur-unsur modern seperti dekorasi mewah, tata cahaya, hingga hiburan musik. Meski demikian, esensi tradisi tetap dijaga. Kehadiran modernisasi justru membuat Mappacci semakin dikenal luas, bahkan sering menjadi daya tarik budaya dalam pesta pernikahan adat Bugis-Makassar.
Keberlangsungan Mappacci hingga hari ini membuktikan bahwa tradisi lokal mampu beradaptasi tanpa kehilangan makna. Upacara ini bukan sekadar ritual menjelang pernikahan, tetapi juga pengingat bahwa kebahagiaan rumah tangga lahir dari doa, restu keluarga, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. ( Adel Ekawati / RRI Magang )
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....