KRI Sriwijaya dan Babak Baru Kekuatan Maritim Indonesia

  • 22 Sep 2026 11:39 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR - Indonesia memasuki babak baru dalam pertahanan maritim setelah menerima kapal eks-Angkatan Laut Italia ITS Giuseppe Garibaldi yang kemudian diberi nama KRI Sriwijaya-100 navalnews. Kapal ini tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada 18 September 2026 setelah menempuh pelayaran sekitar 6.870 mil laut dari Italia dan menjadi kapal induk pertama dalam jajaran TNI Angkatan Laut kemhan.go.id.

ITS Giuseppe Garibaldi merupakan kapal berjenis Through-deck Aviation Cruiser yang dibangun Italcantieri di Monfalcone, Italia, dan mulai bertugas pada 1985; Italia menonaktifkannya pada 2024 sebelum menghibahkannya kepada Indonesia. Kapal ini memiliki panjang 180,2 meter, lebar maksimum sekitar 30,4 meter pada geladak penerbangan, displacement 13.850 ton saat muatan penuh, empat turbin gas LM2500 berkekuatan total sekitar 60.400 kW, kecepatan maksimum sekitar 30 knot, serta jangkauan sekitar 7.000 mil laut.

Rancangan Garibaldi sejak awal menempatkan kemampuan penerbangan sebagai fungsi utama, khususnya untuk operasi helikopter dan pesawat short take-off and vertical landing atau STOVL. Angkatan Laut Italia mencatat kapal ini dapat membawa sekitar 18 sampai 20 pesawat atau kombinasi helikopter, sementara fasilitas ski-jump dan geladak penerbangannya mendukung operasi udara dari laut.

Bagi Indonesia, nilai strategis kapal ini tidak hanya terletak pada kemampuan tempur, tetapi juga pada mobilitas udara dan kemampuan membawa dukungan ke wilayah kepulauan yang sulit dijangkau. Kementerian Pertahanan menyebut KRI Sriwijaya dipersiapkan untuk mendukung operasi militer selain perang, terutama penanggulangan bencana alam, distribusi logistik, bantuan kemanusiaan, serta mobilitas helikopter dan drone.

Akuisisi ini juga memberi Indonesia sebuah platform komando dan kendali bergerak yang dapat beroperasi jauh dari pangkalan darat marina.difesa.it. Kapal dengan fasilitas penerbangan, hanggar, pusat informasi tempur dan ruang komando seperti Garibaldi dapat mendukung koordinasi operasi laut, pengawasan wilayah, evakuasi, pengiriman bantuan dan operasi gabungan, meskipun efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan awak, pemeliharaan, sistem pendukung dan armada udara yang ditempatkan di atasnya.

Kehadiran KRI Sriwijaya juga menambah pilihan Indonesia dalam membangun kemampuan proyeksi kekuatan laut tanpa harus mengembangkan kapal induk dari tahap desain hingga konstruksi pertama. Namun, kapal yang telah berusia lebih dari empat dekade tetap membutuhkan evaluasi teknis, modernisasi sistem dan biaya pengoperasian agar mampu menjalankan fungsi secara berkelanjutan; pemerintah sendiri menyatakan hibah tersebut melalui kajian kebutuhan operasional dan modernisasi pertahanan.

Di dunia, kapal induk atau kapal pembawa pesawat digunakan oleh sejumlah negara dengan konsep yang berbeda, antara lain Amerika Serikat, China, India, Italia, Inggris, Prancis, Rusia, Spanyol, Jepang, Thailand dan Turki. Amerika Serikat menggunakannya untuk proyeksi kekuatan, kehadiran militer di berbagai kawasan, pengendalian laut, keamanan maritim, pencegahan konflik serta bantuan kemanusiaan, sementara negara lain mengembangkan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan pertahanan dan kemampuan armadanya.

Perbedaan fungsi terlihat dari karakter kapalnya, misalnya Amerika Serikat mengoperasikan kapal induk nuklir berukuran besar dengan sayap udara tempur, Inggris mengoperasikan kelas Queen Elizabeth yang dapat membawa F-35B dan helikopter, sedangkan Prancis menggunakan Charles de Gaulle untuk proyeksi kekuatan, pengawasan udara-maritim dan misi strategis. Jepang juga mengembangkan kemampuan operasi F-35B pada kapal kelas Izumo, menunjukkan bahwa kapal berdek penerbangan dapat menjalankan fungsi pertahanan, komando, bantuan kemanusiaan dan operasi udara sesuai desain serta doktrin masing-masing negara.

Sumber :

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....