Pencegahan Komsumsi Gula Berlebih pada Minuman Kemasan di Masyarakat

  • 20 Sep 2026 20:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Konsumsi gula berlebih, terutama yang berasal dari minuman kemasan, perlu menjadi perhatian masyarakat. Meski gula dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi untuk menunjang aktivitas sehari-hari, asupan yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Nizart Abdillah, S.Ked., dari MPPD IKM-IKK-IKP Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI) dalam program Kiprah Sulsel RRI Makassar, Sabtu (19/9/2026), yang dipandu Risna Supratio. Ia menjelaskan, kebutuhan gula tetap ada, namun masyarakat perlu memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari, termasuk gula yang berasal dari makanan dan minuman.

Menurut Muhammad Nizart, WHO merekomendasikan pembatasan konsumsi gula harian kurang dari sekitar 50 gram atau setara empat sendok makan. Batas tersebut mencakup seluruh asupan gula dari makanan maupun minuman, sehingga konsumsi minuman kemasan yang manis perlu diperhitungkan agar tidak menyebabkan asupan gula harian melebihi batas yang dianjurkan.

“Gula memang dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, tetapi ketika dikonsumsi berlebihan dan terus-menerus, tentu akan memberikan dampak bagi kesehatan,” jelas Muhammad Nizart. Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang, menurutnya, dapat meningkatkan risiko diabetes melitus dan obesitas, serta berdampak terhadap organ vital seperti jantung dan ginjal.

Karena itu, masyarakat dianjurkan menjadikan air putih sebagai pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Kesadaran konsumen juga menjadi kunci pencegahan, antara lain dengan membiasakan membaca label kandungan gula pada kemasan dan menakar asupan gula dari berbagai sumber, bukan hanya memperhatikan rasa manis dari sebuah produk.

Muhammad Nizart juga mengingatkan masyarakat agar lebih banyak mengonsumsi real food atau makanan utuh dengan proses pengolahan minimal, serta membatasi makanan dan minuman ultra-processed. Ia turut menyoroti kental manis, yang menurutnya tidak tepat dianggap sebagai pengganti susu karena kandungan gulanya tinggi, sehingga penggunaannya perlu diperhatikan dan tidak dijadikan minuman harian pengganti susu.

Upaya mengurangi konsumsi gula, lanjutnya, tidak harus dilakukan secara drastis, tetapi dapat dimulai secara bertahap hingga terbentuk kebiasaan baru. Masyarakat dapat mengurangi frekuensi dan takaran minuman manis, menggantinya dengan air putih, serta lebih sadar terhadap kandungan gula dalam setiap produk yang dikonsumsi. Dengan perubahan sederhana yang dilakukan konsisten, pencegahan dampak konsumsi gula berlebih dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....