Melawan Mental Pasrah di tengah Ancaman Ketergantungan

  • 13 Agt 2026 14:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR – Kemunduran berpikir suatu bangsa dapat terlihat ketika masyarakatnya lebih mudah menerima keadaan daripada mempertanyakan penyebabnya, serta terbiasa menunggu pihak lain menyelesaikan persoalan. Kondisi dimana penjajahan tidak selalu hadir melalui kekuatan asing, tetapi dapat muncul melalui kelompok dari dalam bangsa sendiri yang memanfaatkan ketakutan, ketidaktahuan, kemalasan berpikir dan ketergantungan masyarakat.

Muncul Istilah terkenal qabiliyyah lil-isti'mar atau kecenderungan untuk dapat dijajah diperkenalkan oleh pemikir Aljazair, Malik Bennabi, menjelaskan kondisi masyarakat yang membuat dominasi dari luar lebih mudah berkembang. Gagasan ini tidak berarti bangsa yang dijajah bertanggung jawab atas penjajahan, tetapi mengajak melihat kelemahan berpikir, sosial dan budaya yang dapat membuat masyarakat kehilangan daya untuk melawan ketergantungan.

Masalah muncul menurut Bennabi, ketika masyarakat mengalami kemunduran dan kehilangan kemampuan mengelola manusia, pengetahuan, waktu serta sumber daya secara produktif. Penelitian Muhammad Yusuf Patria studentrepo memaparkan colonisability berkaitan dengan kelemahan internal dan rusaknya hubungan antara manusia, gagasan serta benda yang menghambat gerak kemajuan masyarakat.

Mental budak dalam konteks ini bukan sekadar posisi seseorang sebagai pekerja atau bawahan, tetapi sikap ketika seseorang kehilangan keberanian untuk berpikir mandiri dan menentukan pilihan. Sikap malas berusaha, mudah menyerah, merasa tidak mampu sebelum mencoba dan menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang harus diterima dapat mempertahankan pola ketergantungan tersebut.

Relevansi dalam dunia pendidikan, melansir rilis The Organisation for Economic Co-operation and Developmentoecd.org apakah pendidikan tinggi mengajarkan mahasiswa untuk berpikir kritis ketika belajar hanya diarahkan untuk mengejar nilai, ijazah dan kelulusan tanpa membangun kemampuan bertanya, menganalisis dan memecahkan masalah. OECD menempatkan berpikir kritis, pemecahan masalah dan komunikasi sebagai keterampilan penting dalam pendidikan tinggi karena pengetahuan faktual saja tidak cukup menghadapi perubahan dunia kerja.

Pola yang sama dapat terbawa ke dunia kerja ketika seseorang hanya menunggu perintah, menghindari tanggung jawab dan tidak berusaha meningkatkan kemampuan. Melansir ab.ilo.org menjelaskan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat dan pengembangan keterampilan penting untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi, produktivitas, mobilitas kerja dan akses terhadap pekerjaan layak.

Pandangan lebih luas yaitu sebagai peringatan agar bangsa tidak membangun ketergantungan melalui kemalasan intelektual dan sikap pasrah. Ketika masyarakat berhenti belajar, tidak kritis terhadap informasi, takut berinovasi dan menyerahkan keputusan penting kepada pihak lain, ruang ketergantungan akan semakin besar, termasuk ketika tekanan tersebut datang dari lingkungan politik, ekonomi, pendidikan maupun tempat kerja.

Pembebasan dari mental ketergantungan harus dimulai dari kemampuan manusia sendiri untuk berpikir, belajar, bekerja dan mengambil tanggung jawab secara mandiri. Pendidikan yang mendorong rasa ingin tahu, keterampilan kritis dan pembelajaran sepanjang hayat menjadi bagian penting untuk membentuk masyarakat yang tidak mudah dikendalikan oleh kekuatan dari luar maupun oleh kepentingan kelompok dari dalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....