Ahli Ingatkan Dampak Lonjakan Ekonomi Terhadap Kesehatan Mental

  • 11 Jun 2026 20:22 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Lonjakan harga kebutuhan pokok dan ketidakpastian situasi ekonomi saat ini kian nyata dampaknya terhadap kesehatan mental masyarakat. Tekanan finansial, mulai dari biaya hidup yang membengkak hingga beban cicilan yang terus menumpuk, memicu kecemasan dan kekhawatiran yang masif.

Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam obrolan kesehatan di Pro 4 RRI Makassar pada Rabu 10 Juni 2026, yang mengusung tema pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah fluktuasi ekonomi global maupun domestik. Hadir sebagai narasumber, dokter Spesialis Kejiwaan sekaligus Psikiater, dr. Muhammad Alim Jaya, MARS, Ph.D., Sp.KJ., atau akrab dikenal dr Aji.

Dokter Aji mengungkapkan bahwa respons cemas terhadap kondisi ekonomi yang serba sulit sebenarnya merupakan reaksi yang manusiawi. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat lebih bijak dan pintar dalam mengelola stres tersebut. Jika tidak dimitigasi dengan baik, tekanan finansial ini sangat rentan berkembang menjadi gangguan jiwa atau kesehatan mental yang jauh lebih serius.

Menurut dr. Aji, korelasi antara kondisi ekonomi dan kesehatan jiwa sangatlah erat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pasien yang saat ini sedang ia tangani akibat jeratan masalah finansial. Dalam penjelasannya, dr. Aji mengklasifikasi ada tiga faktor utama mengapa dinamika ekonomi dapat merusak stabilitas mental seseorang, di mana faktor pertama adalah rasa ketidakpastian yang berlarut-larut.

"Faktor yang pertama itu adalah faktor ketidakpastian. Ketika adanya ketidakpastian harga, pekerjaan, nilai rupiah, dan sebagainya, maka otak secara otomatis akan masuk ke mode ancaman atau defense. Akibatnya, orang menjadi sering overthinking yang berlebihan dan memandang hal-hal negatif secara fisik terhadap apa yang akan terjadi di masa depan," ujar dr. Aji dalam siaran Pro 4 RRI Makassar.

Dampak dari mode bertahan atau overthinking ini tidak bisa diremehkan karena langsung menyerang fungsi harian tubuh. Dr. Aji menambahkan bahwa individu yang terjebak dalam ketidakpastian ini cenderung menjadi mudah marah, kehilangan fokus dalam beraktivitas, hingga mengalami gangguan tidur yang parah. Ketika orang lain sudah beristirahat, kepala mereka justru tetap bekerja keras memikirkan proyeksi beban hidup untuk hari esok, minggu depan, hingga setahun ke depan.

Faktor kedua yang tidak kalah berbahaya adalah hilangnya kendali diri atau loss of control. Kondisi ini jamak dialami oleh para pekerja yang merasa sudah mendedikasikan waktu dan energinya di bawah tekanan yang berat selama bertahun-tahun, namun tidak melihat adanya perubahan signifikan pada kesejahteraan ekonomi mereka. " Rasa frustrasi karena tetap harus tinggal di rumah kontrakan setelah puluhan tahun bekerja akhirnya memicu rasa putus asa, kebosanan akut, hingga hilangnya semangat untuk bekerja", ucapnya.

Sementara itu, faktor ketiga yang menjadi tren di era modern ini dipicu oleh masifnya penggunaan media sosial dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Dr. Alim menyoroti kecenderungan masyarakat yang sering melakukan social comparison atau membandingkan taraf hidupnya dengan unggahan orang lain di media sosial. Standar kebahagiaan yang semu dan konsumtif di jagat maya sering kali menjadi racun bagi pikiran yang sedang berjuang menghadapi kesulitan ekonomi.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial kerap kali merupakan kebahagiaan palsu yang dimanipulasi melalui filter, perawatan mahal, atau sekadar dokumentasi lama yang diunggah kembali demi gengsi.

Menutup penjelasannya, dr. Aji mengingatkan masyarakat untuk berhenti membandingkan nasib dengan orang lain. Ia menegaskan bahwa jangankan dengan orang lain, anak kembar yang lahir dari rahim dan orang tua yang sama pun memiliki garis tangan dan jalan hidup yang berbeda-beda, sehingga fokus pada pengelolaan diri sendiri adalah kunci utama untuk tetap waras.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....