Kepala Keluarga dinilai Rentan Alami Stres di tengah Ketidakpastian Ekonomi

  • 12 Jun 2026 15:02 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar– Ketidakpastian situasi ekonomi akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah yang terjadi belakangan ini mulai berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Tekanan finansial yang meningkat memicu kekhawatiran massal, terutama bagi kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Fenomena ini memicu gelombang stres finansial yang jika dibiarkan dapat berujung pada gangguan kejiwaan yang lebih serius.

Menanggapi fenomena tersebut, praktisi kesehatan mental Dokter spesialis Kejiwaan dr. Muhammad Alim Jaya, MARS, Ph.D., Sp.Kj. (Psikiater), yang akrab disapa dr. Aji, memetakan sejumlah kelompok atau klaster masyarakat yang paling rentan mengalami guncangan mental. Dalam wawancara bersama RRI pada Rabu 10 Juni 2026, ia menjelaskan bahwa faktor ketidakpastian pendapatan dan beban tanggung jawab yang besar menjadi pemicu utama rapuhnya pertahanan mental seseorang di tengah situasi sulit ini.

Menurut dr. Aji, klaster pertama yang paling berisiko adalah para tulang punggung keluarga yang bekerja di sektor informal atau memiliki pendapatan tidak tetap. Ketika harga-harga kebutuhan melonjak akibat fluktuasi mata uang, mereka harus memutar otak lebih keras tanpa adanya jaminan kepastian penghasilan esok hari. Beban ini kian berlipat ganda jika mereka juga terjebak dalam fenomena sandwich generation.

"Tentunya banyak kelompok yang rentan mengalami stres finansial. Yang pertama tentunya yang menjadi tulang punggung keluarga, bekerja lagi di penghasilan yang tidak tetap, tidak ada kepastian, apalagi dia termasuk dalam generasi sandwich. Dia harus menopang generasi di atasnya (orang tua, kakek, nenek) dan dia juga harus menopang generasi di bawahnya seperti adik-adiknya. Jadi dia sudah bekerja dengan gaji yang tidak pasti, baru lagi bukan cuma dirinya yang dibiayai. Ini yang paling rentan mengalami stres finansial," ujar dr. Aji saat diwawancarai RRI, Rabu , 10 Juni 2026.

Selain para pekerja berpenghasilan tidak tetap, klaster rentan berikutnya yang disoroti adalah dunia pendidikan, khususnya mahasiswa rantau dan orang tua mereka. Fluktuasi ekonomi yang memukul kondisi finansial di daerah asal membuat kiriman bulanan mahasiswa menjadi tersendat. Kondisi ini tidak hanya menekan mental sang anak yang bertahan di perantauan, tetapi juga menghantam psikologis orang tua di kampung halaman.

Dampak psikologis pada sektor keluarga ini menciptakan efek domino yang saling berkaitan. Ketika orang tua merasa tidak mampu lagi menyokong kebutuhan akademik anaknya, muncul rasa bersalah yang mendalam. Tekanan dua arah inilah yang membuat klaster mahasiswa dan orang tua di daerah menjadi sangat rentan mengalami kecemasan akut di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini.

Untuk mengantisipasi agar stres finansial tidak memburuk menjadi gangguan kejiwaan atau depresi, dr. Aji memberikan beberapa saran praktis bagi masyarakat. Langkah awal yang paling krusial adalah kemampuan memilah informasi dan mengontrol ekspektasi agar tidak terjebak dalam pola pikir yang merusak diri sendiri (overthinking).

"Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Yang pertama itu kita harus bedakan bahwa ini realitas keadaan nyata atau ini hanya skenario pikiran. Dan jangan kita terlalu berpikir jauh satu tahun dua tahun ke depan, atau overthinking terkait hal-hal negatif yang mungkin terjadi. Jadi kita jalani saja dulu apa yang ada sekarang. Jangan terlalu jauh memikirkan sesuatu yang sebenarnya masalah kecil tapi dibesar-besarkan di dalam pikiran yang akibatnya menjadi porsi berpikir berlebihan. Terus yang kedua, jangan terlalu sering membaca hal-hal terkait (berita negatif)," pungkas dr. Aji.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....