Hiperhidrosis, Kondisi Keringat Berlebih yang Perlu Diwaspadai

  • 29 Jul 2026 11:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Berkeringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk membantu menurunkan suhu. Namun, pada sebagian orang, produksi keringat dapat terjadi secara berlebihan meski tidak sedang berolahraga atau berada di lingkungan yang panas. Kondisi ini dikenal sebagai hiperhidrosis, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga memengaruhi kondisi psikologis penderitanya.

Menurut Mayo Clinic, hiperhidrosis ditandai dengan produksi keringat berlebih yang tidak berkaitan dengan suhu lingkungan, aktivitas fisik, maupun stres. Pada hiperhidrosis primer, keringat umumnya muncul di telapak tangan, telapak kaki, ketiak, atau wajah dan biasanya terjadi pada kedua sisi tubuh setidaknya sekali dalam seminggu saat penderitanya sedang beraktivitas.

Selain mengganggu kenyamanan, hiperhidrosis juga dapat memicu kecemasan sosial dan rasa malu. Penderita kerap mengalami pakaian yang basah karena keringat atau telapak tangan yang terus berkeringat sehingga memengaruhi interaksi sosial maupun aktivitas pekerjaan.

Mayo Clinic menjelaskan, hiperhidrosis primer disebabkan oleh gangguan sinyal saraf yang membuat kelenjar keringat menjadi terlalu aktif. Kondisi ini tidak berkaitan dengan penyakit tertentu dan dapat diturunkan dalam keluarga. Sementara itu, hiperhidrosis sekunder dipicu oleh kondisi medis tertentu, seperti diabetes, gangguan tiroid, menopause, infeksi, gangguan sistem saraf, hingga efek samping beberapa jenis obat.

Gejala utama hiperhidrosis adalah keringat berlebih yang muncul tanpa penyebab yang jelas. Masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis apabila keringat berlebih disertai pusing, nyeri dada, nyeri pada rahang, lengan atau bahu, denyut nadi cepat, maupun kulit yang terasa dingin. Pemeriksaan juga diperlukan jika keringat berlebih mengganggu aktivitas harian, menyebabkan tekanan emosional, muncul secara tiba-tiba, atau disertai keringat malam tanpa penyebab yang jelas.

Penanganan hiperhidrosis umumnya dimulai dengan penggunaan antiperspiran. Jika belum efektif, dokter dapat memberikan obat-obatan, terapi tertentu, hingga tindakan operasi pada kasus yang berat. Selain itu, bila penyebabnya merupakan penyakit tertentu, maka kondisi tersebut perlu ditangani terlebih dahulu agar produksi keringat dapat dikendalikan.

Hiperhidrosis juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit akibat kelembapan berlebih. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup penderita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....