Berani Berkata Tidak Kunci Menjaga Kesehatan Mental Perempuan
- 08 Jun 2026 17:21 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Program Pengarusutamaan Gender PRO1 RRI Makassar kembali hadir menyapa pendengar pada edisi Senin, 8 Juni 2026.. Dipandu oleh Arfan Yusri dengan mengangkat topik hangat yang sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini, yaitu "Perempuan dan Seni Mengatakan Tidak Demi Kesehatan Mental".
Diskusi interaktif ini mengupas tuntas bagaimana kebiasaan sulit menolak permintaan orang lain dapat berdampak buruk pada psikologis perempuan. Hadir sebagai narasumber utama melalui sambungan telepon, Dr. Widyastuti, S.Psi., M.Si., Psikolog. Selaku Psikolog Klinis sekaligus Akademisi,
ia menyoroti fenomena people pleasing yang masih lekat pada figur perempuan akibat konstruksi sosial. Banyak perempuan merasa harus selalu siap sedia membantu dan menyenangkan semua orang, bahkan ketika kapasitas fisik dan mental mereka sudah berada di ambang batas.
Menurut Dr. Widyastuti, ketidakmampuan untuk berkata "tidak" sering kali berakar dari rasa bersalah dan ketakutan akan penolakan atau dicap sebagai pribadi yang egois. “Perempuan secara tradisional sering dituntut untuk menjadi sosok yang pengasuh dan penurut. Ketika seorang perempuan memaksakan diri untuk selalu mengiyakan segalanya, ia sedang menimbun bom waktu berupa stres kronis, kecemasan, hingga risiko mengalami burnout yang parah," jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Widyastuti menekankan bahwa menguasai "seni mengatakan tidak" bukanlah bentuk keegoisan, melainkan sebuah tindakan pertahanan diri yang esensial. “Menolak sesuatu yang berada di luar kendali atau kapasitas kita adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengatakan 'tidak' pada hal yang membebani artinya kita sedang mengatakan 'ya' pada kesehatan mental dan ketenangan jiwa kita sendiri," tambahnya.
Dalam dialog, dibahas pula langkah-langkah praktis bagi perempuan untuk mulai berani menetapkan batasan diri atau personal boundaries. Dr. Widyastuti menyarankan agar penolakan disampaikan dengan cara yang asertif jelas, jujur, namun tetap disampaikan dengan sopan tanpa perlu memberikan alasan yang berbelit-belit. Mengulur waktu untuk berpikir sebelum memberi jawaban juga menjadi trik yang efektif agar tidak terjebak dalam keputusan impulsif.
Dampak dari menomor duakan kesehatan mental ini tidak bisa diremehkan karena dapat menurunkan kualitas hidup perempuan secara signifikan. “Ketika seorang perempuan sehat secara mental, ia justru akan jauh lebih optimal dalam menjalankan berbagai perannya, baik di ranah domestik maupun publik. Oleh karena itu, seni menjaga batasan ini harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan emosional mereka,” kata Dr.Widyastuti.
Menutup perbincangan, Dr. Widyastuti memberikan pesan kuat bagi seluruh perempuan di luar sana: "Jangan biarkan diri Anda habis hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain; ingatlah bahwa kesehatan mental Anda adalah prioritas yang berharga,” pungkas Dr.Widyastuti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....