Tengkawang, Alternatif Ramah Lingkungan untuk Minyak Nabati
- 29 Mar 2026 19:54 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Minyak nabati telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dengan sawit dan kelapa sebagai dua sumber utama yang paling dikenal. Namun, di balik hutan Kalimantan, ada satu potensi besar yang sedang muncul sebagai alternatif ramah lingkungan: tengkawang.
Tengkawang yang berasal dari biji pohon meranti (genus Shorea), kini tengah menjadi sorotan sebagai sumber minyak nabati alami yang dikenal dengan nama green butter atau bornean tallow. Selama ini, pohon meranti dikenal luas karena kayunya yang berkualitas tinggi, digunakan dalam industri konstruksi dan pembuatan furniture.
Namun, biji dari pohon ini juga menyimpan potensi besar. Menurut penelitian yang dipublikasikan di ResearchGate, biji tengkawang memiliki kemampuan untuk menghasilkan minyak yang berkualitas tinggi. Minyak ini memiliki tekstur yang mirip dengan mentega kakao dan tidak mudah tengik, menjadikannya pilihan yang ideal untuk berbagai industri, mulai dari pangan hingga kosmetik.
Dalam kajian tersebut, disebutkan bahwa minyak tengkawang lebih stabil dan ramah lingkungan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, termasuk minyak sawit. Ini menjadi salah satu alasan mengapa tengkawang bisa menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan industri tanpa merusak lingkungan. Dengan tekstur yang mirip mentega kakao, minyak tengkawang ini juga memiliki manfaat gizi yang cukup baik, sehingga dapat dimanfaatkan dalam produk makanan.
Tengkawang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak sebagai bahan baku untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan, lilin, sabun dan perawatan kulit. Keunggulan tengkawang terletak pada fakta bahwa ia merupakan hasil hutan non-kayu yang berarti pohon-pohon tengkawang tidak perlu ditebang untuk mendapatkan manfaat ekonominya. Hal ini menjadikannya lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan minyak sawit yang seringkali dikaitkan dengan isu deforestasi.
Keunikan lainnya dari pohon tengkawang adalah pola berbuahnya yang sangat berbeda dari pohon pada umumnya. Pohon tengkawang memiliki fenomena yang disebut "mast fruiting", di mana pohon-pohon tengkawang akan berbuah serentak setiap 3 hingga 5 tahun sekali. Fenomena ini menjadi kesempatan besar bagi petani dan masyarakat lokal untuk mengumpulkan biji tengkawang dalam jumlah besar, sekaligus meminimalisir dampak terhadap ekosistem hutan.
| Baca juga: Tips Membuat Jus yang Segar dan Bernutrisi |
Pada tahun 1990-an, ekspor tengkawang dari Kalimantan Barat pernah mencapai ribuan ton dengan nilai ekspor yang mencapai jutaan dolar AS. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, jumlah pohon tengkawang yang ada di hutan Kalimantan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Meskipun demikian, permintaan terhadap produk berbasis tengkawang, terutama untuk industri kosmetik dan pangan, terus meningkat.
Tengkawang membuktikan bahwa hutan tropis Kalimantan tidak hanya kaya akan kayu, tetapi juga dapat menjadi sumber daya alam yang berkelanjutan dengan memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak hutan. Sebagai sumber minyak nabati alami yang ramah lingkungan, tengkawang menjadi salah satu solusi potensial untuk menggantikan ketergantungan terhadap minyak sawit yang kerap menjadi penyebab utama deforestasi.
Dengan semakin tingginya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, tengkawang menawarkan harapan baru bagi perekonomian lokal, serta menjadi alternatif minyak yang lebih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan industri global. Diharapkan, dengan adanya upaya pelestarian dan peningkatan populasi pohon tengkawang, produk ini dapat memenuhi permintaan yang terus berkembang tanpa menambah kerusakan pada hutan tropis kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....