Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu, Kenali Risikonya bagi Kesehatan

  • 12 Sep 2026 20:05 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit. Abu vulkanik memiliki partikel sangat halus yang dapat terbawa angin hingga ke wilayah yang cukup jauh dan masuk ke dalam tubuh saat terhirup.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program KIPRAH SULSEL RRI Makassar, Sabtu (12/9/2026), dengan topik “Mencegah Bahaya Kesehatan Akibat Abu Vulkanik”. Narasumber Andi Mappangara, S.Ked (MPPD IKM-IKK-IKP FK UMI) menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan abu pembakaran biasa karena partikelnya dapat bersifat tajam dan abrasif.“Partikelnya dapat bersifat tajam atau abrasif dan bisa mengiritasi saluran pernapasan, mata, serta kulit. Karena itu, ketika terjadi hujan abu, kita sebaiknya tidak menganggapnya sebagai debu biasa,” jelasnya.

Menurutnya, abu vulkanik yang terhirup dapat menyebabkan batuk, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hidung berair atau tersumbat hingga sesak napas. Paparan tersebut juga berpotensi memperburuk keluhan pada masyarakat yang sebelumnya telah memiliki masalah saluran pernapasan. Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan penyakit pernapasan perlu mendapatkan perhatian lebih.“Kalau seseorang mengalami sesak napas berat, sulit bernapas, nyeri dada, atau kondisi kesehatan semakin memburuk, sebaiknya segera mencari pertolongan medis,” tegasnya.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan ketika terjadi hujan abu, menutup pintu dan jendela, serta menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa keluar, penggunaan masker yang sesuai dan perlindungan mata menjadi langkah penting. Masker partikulat seperti N95 atau yang setara disebut dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel halus jika digunakan dengan benar dan terpasang pas di wajah.

Masyarakat juga diminta tidak menggosok mata apabila terkena abu vulkanik, tetapi segera membilasnya dengan air bersih. Setelah terpapar, tubuh dan pakaian perlu dibersihkan untuk mengurangi penyebaran abu di dalam rumah. Makanan dan air juga harus disimpan dalam wadah tertutup. Sementara itu, pembersihan lingkungan perlu dilakukan secara hati-hati agar abu tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Andi Mappangara mengingatkan masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Perlindungan juga perlu diberikan kepada anggota keluarga yang lebih rentan, khususnya anak-anak dan lansia. “Jangan panik, tetapi tetap waspada. Kurangi paparan terhadap abu vulkanik, gunakan perlindungan yang sesuai, jaga kebersihan tubuh, makanan, air, dan lingkungan,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....