Pentingnya Diagnosis Dini Penanganan DBD di UGD
- 02 Mar 2026 14:31 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Diagnosis merupakan ranah profesional dokter yang membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman bertahun-tahun. Semakin tinggi spesialisasi seorang dokter, maka kemampuan diagnosisnya akan semakin tajam dalam mendeteksi penyakit secara detail. Dengan diagnosis yang benar di awal, pasien akan mendapatkan kepastian apakah mereka boleh pulang dengan resep obat atau harus menjalani rawat inap. Demikian disampaikan Dokter Rachmat Latief dalam perbincangan lewat dialog bersama Pro 1 RRI Makassar, edidi Minggu, 1 Maret 2026
Dikatakan, pentingnya diagnosis medis yang akurat bagi siapa saja yang mengalami gejala demam, tanpa memandang faktor usia. Masalah utama yang sering dihadapi adalah banyaknya kemungkinan penyebab demam, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga protozoa. Tanpa pemeriksaan ahli, masyarakat sulit membedakan apakah demam tersebut merupakan gejala DBD atau penyakit lainnya.
Kesalahan dalam mendiagnosis penyakit dapat berujung pada kesalahan terapi yang bisa berakibat fatal bagi pasien. Sebagai contoh, jika seorang pasien penderita DBD disangka hanya menderita tipes, maka pengobatan yang diberikan tidak akan menyasar masalah utamanya. Ketidaktahuan ini membuat pasien berisiko mengalami perburukan kondisi karena tidak mendapatkan penanganan kebocoran pembuluh darah yang tepat.
“pekerjaan yang tidak mudah adalah menegakkan suatu diagnosis penyakit, Itu tidak mudah, butuh keterampilan dan keahlian untuk memastikan, Ketika kita salah dalam mendiagnosa misalnya demam berdarah kita menyangka dia tifus dan kita obati sebagai tifus kita akan kecolongan,” katanya kepada RRI.
Untuk memastikan diagnosis, dokter di Unit Gawat Darurat (UGD) mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang sangat ketat. Proses dimulai dengan inspeksi atau pengamatan langsung terhadap kondisi fisik dan tingkat kesadaran pasien. Dokter akan melihat apakah pasien masih bisa diajak berkomunikasi dengan lancar atau sudah dalam keadaan lemas dan tidak berdaya.
“Oleh karena itu dipastikan, dan mereka yang bekerja di Unit Gawat Darurat sudah punya SOP (Standard Operating Procedure) setiap penyakit. Ada tahapan dalam pemeriksaan,” kata Dokter Rachmat Latief kepada RRI.
Tahap pemeriksaan selanjutnya meliputi palpasi atau perabaan untuk mendeteksi adanya nyeri tekan atau pembesaran organ seperti hati dan limpa. Selain itu, teknik perkusi dan penggunaan stetoskop juga dilakukan untuk memeriksa kondisi paru-paru. Hal ini penting karena demam juga bisa bersumber dari radang paru-paru atau pneumonia yang sering kali disalahpahami sebagai flu biasa.
Pemeriksaan laboratorium menjadi alat bantu krusial untuk memperkuat temuan fisik dokter di lapangan. Melalui cek darah, kadar trombosit dapat dipantau untuk melihat sejauh mana infeksi virus Dengue telah memengaruhi tubuh. Jika ditemukan adanya masalah pada paru-paru, dokter juga akan menyarankan pemeriksaan rontgen untuk melihat gambaran klinis yang lebih jelas.
Masyarakat diingatkan untuk tidak menunda kunjungan ke rumah sakit hanya karena pertimbangan waktu atau jam operasional. Layanan UGD, laboratorium, dan fasilitas rontgen di rumah sakit selalu tersedia selama 24 jam penuh untuk melayani kasus darurat. Kecepatan dalam memeriksakan diri sangat menentukan keberhasilan pengobatan dan pemulihan pasien.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....