Memahami Kondisi Pasien Diabetes saat Ramadhan

  • 16 Feb 2026 08:44 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar - Memasuki bulan suci Ramadhan, pasien diabetes diimbau untuk lebih cermat dalam mengatur pola makan, aktivitas, dan pengobatan selama menjalani ibadah puasa. Edukasi ini disampaikan oleh dr. Hj. Darariani Iskandar Idy, Sp.PD, AIFO-K, dalam program kerja sama pengabdian masyarakat antara RRI Makassar dan Fakultas Kedokteran UMI Makassar yang disiarkan melalui PRO1 RRI Makassar edisi Minggu, 15 Februari 2026, dipandu Arfan Yusri.

Dalam dialog tersebut, dr. Darariani menjelaskan bahwa pasien diabetes tetap dapat menjalankan ibadah puasa selama kondisi kesehatannya stabil dan mendapat persetujuan dari dokter. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan gula darah sebelum Ramadhan agar dokter dapat menentukan apakah pasien aman berpuasa serta menyesuaikan terapi yang dijalani.

“Pasien diabetes tidak semuanya dilarang berpuasa. Namun, sebaiknya harus melalui evaluasi medis terlebih dahulu. Bila gula darah tidak terkontrol atau memiliki komplikasi tertentu, maka sebaiknya tidak memaksakan diri,” ujar dr. Darariani saat memberikan edukasi kepada pendengar.

Ia menambahkan, perubahan pola makan saat Ramadhan kerap memicu lonjakan gula darah apabila pasien tidak disiplin. Konsumsi makanan manis berlebihan saat berbuka dan sahur, serta melewatkan obat atau insulin, dapat meningkatkan risiko hiperglikemia maupun hipoglikemia. Oleh karena itu, pengaturan jadwal makan dan minum obat harus disesuaikan dengan waktu puasa.

“Pilih makanan dengan indeks glikemik rendah, perbanyak serat, serta batasi makanan dan minuman manis. Jangan lupa tetap minum obat sesuai anjuran dokter dan memeriksa gula darah secara berkala,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya sahur untuk menjaga kestabilan gula darah sepanjang hari.

Selain pola makan, aktivitas fisik ringan seperti berjalan santai setelah berbuka dianjurkan untuk membantu metabolisme tubuh. Namun, pasien diminta menghindari aktivitas berat pada siang hari agar tidak memicu penurunan gula darah secara drastis. Tanda-tanda seperti pusing, lemas, atau keringat dingin harus diwaspadai sebagai gejala hipoglikemia.

dr. Darariani berharap masyarakat, khususnya penderita diabetes, dapat menjalani Ramadhan dengan aman dan sehat. “Kunci utamanya adalah konsultasi dengan dokter, disiplin pola hidup dalam arti control asupan makanan selama ramadhan, serta mengenali kondisi tubuh sendiri apakah kondisi gula darah lagi naik atau sebaliknya turun tentu itu sangat penting sekali. Dengan begitu, ibadah puasa tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kesehatan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....