Pala Fakfak ternyata Tak Cuma Biji, Unhas Temukan Potensi Lainnya

  • 16 Sep 2026 19:14 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Tim 14 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas) melihat peluang besar untuk mengembangkan hilirisasi pala di Kampung Weri dan Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Tak hanya mengandalkan biji dan fuli sebagai produk utama, bagian lain seperti daging buah dan cangkang pala juga dinilai bisa diolah menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat.

Potensi tersebut ditemukan setelah Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas melakukan validasi data bersama petani, pemerintah kampung dan sejumlah instansi terkait. “Pala merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Fakfak yang berpeluang untuk dikembangkan,” demikian gambaran yang mengemuka dalam proses validasi tersebut.

Pala Fakfak sendiri bukan sekadar komoditas perkebunan biasa karena telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis dengan nama Pala Tomandin Fakfak. Status tersebut menjadi salah satu modal penting untuk mendorong pengembangan produk turunan pala agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada hasil panen.

Di Kampung Weri dan Saharey, rata-rata petani memiliki kebun dengan luas sekitar dua hektare. Produksi pada setiap musim panen cukup beragam, mulai dari 1.000 hingga 40.000 buah pala per petani, namun pengelolaannya masih menghadapi berbagai kendala.

Petani selama ini umumnya mengelola kebun dengan cara tradisional, sementara kondisi cuaca, serangan hama dan akses menuju kebun menjadi persoalan yang turut memengaruhi pengembangan komoditas tersebut. “Selain biji dan fuli, potensi pala di Weri dan Saharey menghasilkan daging buah dan cangkang yang selama ini belum dimanfaatkan optimal,” ujar Ketua Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas, Ira Taskirawati, Rabu 9 September 2026.

Persoalan tidak berhenti pada proses budidaya karena tahap pengolahan hasil pala juga masih menyisakan pekerjaan besar. Berdasarkan kalkulasi awal Tim Ekspedisi Patriot Unhas, setiap 10.000 buah pala berpotensi menghasilkan sekitar 0,79 ton hasil samping dan limbah yang sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Keterbatasan pengetahuan teknis dan teknologi pengolahan menjadi salah satu hambatan dalam mengubah hasil samping pala menjadi produk bernilai ekonomi. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh keterbatasan peralatan serta akses pasar, sehingga peluang pengembangan produk turunan pala belum sepenuhnya dimanfaatkan masyarakat.

Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Fakfak mendorong adanya penguatan kapasitas masyarakat bersamaan dengan pengembangan produk olahan pala. Produk seperti manisan, selai dan sirup disebut dapat menjadi pilihan untuk memperluas pemanfaatan komoditas pala di tingkat masyarakat.

Ira mengatakan hasil validasi yang dilakukan bersama masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi pijakan penting sebelum program lanjutan dijalankan. “Ini potensial untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” kata Ira, seraya menekankan bahwa hilirisasi membutuhkan dukungan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut Ira, pengembangan hilirisasi tidak cukup hanya dengan memperkenalkan teknologi pengolahan kepada petani. “Karena itu, hilirisasi perlu dibangun melalui penguatan kapasitas masyarakat, penerapan teknologi yang sesuai, penguatan kelembagaan, serta pengembangan akses pasar,” ujarnya.

Ke depan, Tim 14 Ekspedisi Patriot Unhas bersama masyarakat dan instansi terkait akan memusatkan pendampingan pada pemanfaatan hasil samping serta limbah pala. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga memperkuat kemampuan kelompok masyarakat dalam mengelola potensi pala secara lebih terarah.

Pendampingan yang disiapkan mencakup penguatan kelembagaan kelompok, pengembangan produk turunan pala, pemetaan akses pasar hingga pengelolaan dan budidaya tanaman pala. “Hasil validasi merupakan dasar untuk menyusun program tindak lanjut yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” ujar Ira.

Upaya tersebut diarahkan untuk membangun model hilirisasi yang berangkat dari potensi lokal dan kebutuhan masyarakat Kampung Weri serta Saharey. Dengan begitu, pengembangan pala di Fakfak tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana bagian pala yang sebelumnya menjadi hasil samping dapat masuk ke dalam rantai ekonomi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....