Listrik Belum 24 Jam, TEP Unhas di Fakfak Rancang PLTS dan Teknologi Pascapanen
- 17 Agt 2026 20:44 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Keterbatasan layanan listrik dan pengolahan pascapanen pala menjadi dua persoalan utama yang dipetakan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Tim VII Universitas Hasanuddin (Unhas) di Weri–Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Ketua Tim VII TEP Unhas, Dianti Utamidewi, S.T., M.T., mengatakan jaringan listrik telah tersedia, tetapi belum beroperasi selama 24 jam. Kondisi ini berdampak pada aktivitas sekolah, fasilitas kesehatan, kegiatan masyarakat, hingga aktivitas produktif yang membutuhkan pasokan listrik secara konsisten.
“Temuan paling penting kami adalah kebutuhan listrik masyarakat dan fasilitas umum masih belum sepenuhnya terpenuhi, sementara potensi tanaman pala yang besar belum diikuti dengan pengolahan pascapanen yang memadai,” ujar Dianti, dalam keterangannya, Senin 17 Agustus 2026.
Selain listrik, produksi komoditas pala merupakan perhatian tim. Komoditas ini telah dikelola masyarakat secara turun-temurun. Namun, proses pascapanen masih sederhana, terutama dalam pengeringan, sehingga mutu hasil dan nilai jual belum optimal. Tim VII TEP Unhas mempertimbangkan penggunaan solar dryer untuk memperbaiki proses pengeringan biji dan fuli pala. Teknologi tersebut akan dipadukan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terdistribusi yang dirancang berdasarkan kebutuhan fasilitas umum, titik pengeringan dan sortasi, serta peralatan praktik pascapanen.
“Produk olahan sederhana berbasis buah Pala juga potensial dikembangkan. Namun, penguatan mutu biji dan fuli Pala melalui pengeringan yang lebih baik menjadi langkah awal yang penting,” kata Dianti.
Tim VII juga fokus pada isu pemasaran komoditas pala. Petani umumnya menjual hasil panen melalui pengepul sebelum mencapai pembeli pertama atau pabrik. Kondisi ini membatasi peluang petani memperoleh nilai tambah.
Karena itu, teknologi yang dirancang tidak hanya menyangkut peralatan, tetapi juga model pengelolaan. PLTS dan fasilitas pascapanen diarahkan untuk dikelola melalui kelembagaan lokal seperti kelompok pala, kelompok tani, BUMKam atau koperasi, sekolah, fasilitas kesehatan, dan pemerintah kampung.
Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, S.E., menyampaikan potensi perkebunan, pertanian, dan perikanan di wilayahnya serta kebutuhan peningkatan layanan pendidikan, kesehatan, sanitasi, dan kelistrikan.
Pandangan ini dikonfirmasi oleh Kepala Kampung Weri, Marten Sutadi Fuad, yang menilai sektor pertanian masih membutuhkan pendampingan agar menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Sementara Kepala Kampung Saharey, Zainuddin Arbakala, menyebut pala telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun.
Hasil pemetaan akan dijadikan dasar penyusunan peta prioritas kebutuhan energi, Kartu Energi, pra-desain PLTS, pengembangan pascapanen pala, serta model pengelolaan lokal. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai dasar penentuan teknologi agar fasilitas dapat terus dimanfaatkan setelah program berakhir.
Rangkaian temuan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Perencanaan Pemanfaatan PLTS Terdistribusi untuk Penguatan Fasilitas Umum dan Hilirisasi Pala” sebagai bagian dari program Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. FGD berlangsung di SMP Negeri Fakfak Timur, Kawasan Transmigrasi Weri, Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....