Humas Perguruan Tinggi Dituntut Bangun Narasi Keberlanjutan

  • 25 Agt 2026 22:07 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Peran Humas perguruan tinggi kini semakin strategis, tidak hanya menyampaikan informasi institusi, tetapi juga membangun narasi perubahan, memperkuat kepercayaan publik, serta mengomunikasikan agenda keberlanjutan kepada seluruh pemangku kepentingan. Perspektif tersebut menjadi bagian pembahasan Focus Group Discussion atau FGD bertajuk “Transformasi Keberlanjutan di Perguruan Tinggi: Analisis Kapabilitas Perubahan Organisasi melalui Narasi Digital” yang diikuti Kepala Humas dan Komunikasi Universitas Bosowa atau Unibos, Fenica Salsabila Malsyasila, S.Tr.Kom., di Aston Hotel Losari Makassar, Senin 24 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut mempertemukan praktisi komunikasi dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Katolik Atma Jaya, Universitas Ciputra Makassar, dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Forum menjadi ruang bertukar pengalaman terkait perubahan organisasi serta strategi komunikasi keberlanjutan melalui kanal digital.

FGD tersebut merupakan bagian dari pengumpulan data penelitian Hibah BIMA yang mengkaji hubungan antara organizational change capability dan narasi digital dalam mendukung transformasi keberlanjutan perguruan tinggi di Indonesia. Dalam forum tersebut, peserta membahas bagaimana konsep keberlanjutan tidak hanya diterapkan sebagai kebijakan institusi, tetapi juga diterjemahkan menjadi komunikasi yang dapat dipahami, dipercaya, dan melibatkan sivitas akademika maupun pemangku kepentingan.

Kepala Humas dan Komunikasi Universitas Bosowa, Fenica Salsabila Malsyasila, mengatakan komunikasi keberlanjutan harus dibangun secara konsisten dan berdasarkan praktik nyata yang dilakukan institusi. “Narasi keberlanjutan tidak cukup hanya menceritakan bahwa sebuah institusi memiliki program. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menunjukkan proses, dampak, dan perubahan yang terjadi sehingga publik dapat melihat bahwa sustainability benar-benar menjadi bagian dari perjalanan institusi,” ungkap Fenica.

Menurutnya, perkembangan teknologi serta perubahan perilaku audiens membuat Humas perguruan tinggi dituntut semakin adaptif dalam menyampaikan pesan institusi. Komunikasi juga perlu menjangkau berbagai kelompok, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, pemerintah, industri, media hingga masyarakat.

“Humas harus mampu menerjemahkan perubahan institusi menjadi cerita yang relevan bagi audiens. Kita tidak hanya berbicara kepada mahasiswa, tetapi juga dosen, tenaga kependidikan, alumni, pemerintah, industri, media, dan masyarakat. Karena itu, narasinya harus dibangun secara strategis, konsisten, dan tetap humanis,” lanjut Fenica.

Pembahasan FGD juga mencakup sejumlah faktor yang memengaruhi kemampuan organisasi dalam menghadapi perubahan, seperti kepemimpinan, kesiapan institusi, sumber daya, budaya organisasi, serta kemampuan membangun komunikasi internal selama proses transformasi. Selain itu, peserta membahas strategi membangun digital sustainability narrative, pemilihan platform komunikasi, karakteristik audiens, serta metode mengukur keberhasilan komunikasi dan keterlibatan pemangku kepentingan.

Bagi Universitas Bosowa, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Humas sebagai fungsi strategis dalam proses transformasi institusi. Komunikasi dinilai tidak hanya berperan pada tahap akhir ketika sebuah program telah selesai, tetapi juga dapat dilibatkan sejak perubahan dirancang hingga dievaluasi.

Melalui pertukaran pengalaman antarpengelola komunikasi perguruan tinggi, forum tersebut diharapkan menghasilkan pemetaan mengenai praktik komunikasi keberlanjutan, pola narasi digital, faktor pembentuk Organizational Change Capability, serta rekomendasi strategis untuk memperkuat komunikasi keberlanjutan perguruan tinggi di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....