Makassar dengan Identitas Kota Maritim Melalui Kacamata Ilmu dan Riset

  • 10 Jun 2026 21:20 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Makassar tidak pernah bisa dipisahkan dari laut. Sejak dulu, kota ini tumbuh sebagai salah satu simpul maritim penting di Indonesia Timur. Laut bukan hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga ruang hidup, ruang budaya, ruang perjalanan, dan ruang masa depan masyarakat Sulawesi Selatan. Di hadapan Kota Makassar terbentang gugusan indah Kepulauan Spermonde.

Pulau-pulau seperti Lae-Lae, Samalona, Barrang Lompo, Kodingareng Keke, hingga Kapoposang bukan hanya dikenal karena pasir putih, air laut yang jernih, dan terumbu karangnya. Lebih dari itu, kawasan ini adalah bagian dari denyut kehidupan masyarakat pesisir Makassar. Kementerian Pariwisata Indonesia menggambarkan Spermonde sebagai gugusan pulau di depan Kota Makassar dengan sekitar 55 pulau, sebagian menjadi tujuan wisata, sebagian lagi menjadi kampung nelayan dan ruang hidup masyarakat kepulauan.

Namun, di balik keindahan itu, ada tantangan besar yang sering tidak terlihat oleh masyarakat umum. Perairan sekitar Makassar dan Kepulauan Spermonde adalah ruang yang ramai. Di sana bergerak kapal penumpang, kapal barang, kapal nelayan, speedboat wisata, kapal tradisional, kapal layanan pulau, hingga aktivitas pelabuhan. Semua aktivitas ini menjadikan laut Makassar sebagai ruang lalu lintas yang padat, dinamis, dan berisiko.

Pada titik inilah keselamatan pelayaran menjadi sangat penting. Keselamatan bukan hanya urusan kapal besar atau pelabuhan utama. Keselamatan juga menyangkut masyarakat yang setiap hari naik perahu ke pulau, nelayan yang bekerja sejak dini hari, wisatawan yang menyeberang ke pulau-pulau kecil, anak sekolah dari pulau, pedagang, keluarga pelaut, dan semua orang yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Melansir mdpi.com Peneliti sekaligus akademisi Capt. Joe Ronald Kurniawan Bokau melihat bahwa Makassar membutuhkan perhatian yang lebih kuat terhadap keselamatan lalu lintas laut lokal. Laut Makassar bukan hanya jalur kapal, tetapi juga ruang interaksi antara manusia, kapal, cuaca, teknologi, kebiasaan lokal, dan lingkungan.

Kepadatan pergerakan kapal di wilayah seperti Spermonde perlu dipahami secara serius. Kapal ikan, kapal penumpang kecil, speedboat wisata, dan kapal niaga tidak selalu bergerak dalam sistem yang sama. Ada kapal yang menggunakan peralatan navigasi modern, tetapi ada juga kapal kecil yang masih sangat bergantung pada pengalaman nakhoda, tanda alam, kebiasaan lokal, dan komunikasi sederhana di laut. Dalam kondisi cuaca berubah, visibilitas menurun, malam hari, atau saat perairan ramai, risiko kecelakaan bisa meningkat.

Risiko ini tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada lingkungan. Jika terjadi kandas, tabrakan, tumpahan bahan bakar, pembuangan limbah, atau aktivitas kapal yang tidak terkendali di sekitar pulau-pulau kecil, maka terumbu karang, pasir putih, dan ekosistem laut Spermonde dapat ikut terdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....