Menteri Haji Takziah ke Rumah Jemaah Maros yang Wafat di Tanah Suci

  • 14 Jun 2026 20:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros - Di tengah padatnya agenda penyelenggaraan ibadah haji 2026, Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyempatkan diri mendatangi rumah duka almarhum Sangkala, jemaah haji asal Kabupaten Maros yang wafat saat menunaikan ibadah di Tanah Suci. Kehadiran orang nomor satu di Kementerian Haji dan Umrah itu menjadi wujud penghormatan negara kepada para tamu Allah yang mengakhiri hidupnya dalam perjalanan suci menuju Baitullah.

Suasana haru menyelimuti rumah duka di Desa Bori Kamase, Kecamatan Maros Baru, Minggu 14 Juni 2026. Didampingi Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam, Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan Ikbal Ismail, serta Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin, Gus Irfan menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.

Almarhum Sangkala merupakan jemaah haji Kloter UPG 20 yang meninggal dunia pada Sabtu (6/6/2026) pukul 14.24 waktu Arab Saudi. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rombongan jemaah asal Maros yang selama ini mendampinginya di Tanah Suci.

Bagi Gus Irfan, kehadiran pemerintah di tengah keluarga jemaah yang wafat bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi bagian dari tanggung jawab moral negara kepada warganya yang berpulang saat menjalankan rukun Islam kelima. "Kehadiran kami adalah bentuk penghormatan kepada para tamu Allah. Negara harus hadir memberikan perhatian dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.

Ia mengungkapkan telah menginstruksikan seluruh kepala kantor haji di berbagai daerah untuk menyampaikan takziah kepada keluarga jemaah yang wafat di Arab Saudi sebagai bentuk empati dan kepedulian pemerintah. Dalam kesempatan itu, Gus Irfan juga memaparkan perkembangan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Berdasarkan laporan terakhir, sekitar 290 jemaah haji Indonesia tercatat meninggal dunia di Tanah Suci.

Meski angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan musim haji tahun sebelumnya, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan seiring adanya peningkatan jumlah kematian dalam beberapa hari terakhir. "Kami tetap waspada karena dalam beberapa hari terakhir angkanya mengalami kenaikan," katanya.

Menurutnya, cuaca panas ekstrem yang mencapai sekitar 45 derajat Celsius menjadi salah satu tantangan serius dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Karena itu, seluruh petugas kesehatan dan petugas haji diminta meningkatkan pengawasan terhadap kondisi jemaah, khususnya mereka yang berusia lanjut dan memiliki penyakit penyerta.

"Jemaah harus terus dipantau dan dijaga kesehatannya," tegas Gus Irfan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin mengungkapkan bahwa almarhum Sangkala memang memiliki riwayat gangguan paru-paru sebelum berangkat ke Arab Saudi. Kondisi tersebut telah menjadi perhatian sejak awal keberangkatan. Bahkan dalam dua hari terakhir sebelum wafat, almarhum mengalami penurunan nafsu makan dan kondisi kesehatannya mulai menurun.

Meski demikian, semangat untuk kembali ke kampung halaman tetap menjadi penyemangat bagi almarhum. Bersama rombongan, ia dijadwalkan pulang ke Maros pada 15 Juni 2026. "Dua hari terakhir sebelum meninggal, beliau mengeluhkan berkurangnya nafsu makan. Kami terus memberikan semangat karena jadwal kepulangannya sudah dekat," ungkap Ahmad Ihyadin.

Di tengah sukacita kepulangan ribuan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air, kisah almarhum Sangkala menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh keikhlasan dan pengabdian. Bagi umat Islam, wafat di Tanah Suci saat menunaikan ibadah haji merupakan kemuliaan yang diharapkan menjadi akhir terbaik dalam kehidupan seorang hamba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....