Pendengar Berbagi Kisah Unik jelang HUT RRI ke-81
- 08 Sep 2026 09:05 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Radio Republik Indonesia (RRI) yang ke-81 tahun, gelombang udara Pro 4 RRI Makassar dipadati oleh antusiasme pendengar setia yang ingin berbagi kenangan. Melalui acara Kelongta Rong , Pro 4 RRI Makassar menghadirkan ruang hangat bagi Pendengarnya untuk membuka kembali memori kolektif tentang perjalanan panjang bersama RRI. Tema yang diangkat kali ini berfokus pada nostalgia masa lalu, khususnya sejak kapan pendengar mulai setia menyimak siaran RRI Makassar dan program-program ikonik yang meninggalkan jejak mendalam di hati mereka.
Suasana interaktif langsung terasa begitu line telepon dan layanan WhatsApp dibuka, memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional antara RRI Makassar dan pendengarnya dari berbagai generasi. Para pendengar berebut untuk bisa terhubung lewat sambungan Telpon atau WhatsAp, demi menceritakan pengalaman peribadinya mereka yang penuh warna. Berbagai kisah unik mengalir , mulai dari kenangan masa kecil hingga cerita bagaimana RRI menjadi saksi bisu perjalanan hidup para pendengarnya di Sulawesi Selatan.
Kisah paling berkesan datang dari Sumi Dg Lu'mu, seorang warga yang tinggal di kawasan Pepabri, yang mengaku telah mendengarkan RRI Makassar sejak tahun 1985 silam. Dengan ingatan yang masih sangat tajam, Sumi bernostalgia tentang bagaimana ia dan keluarganya sangat menggemari program-program legendaris masa itu, seperti siaran pedesaan hingga sandiwara radio yang sangat fenomenal. Ia bahkan menceritakan pengalamannya di masa lalu ketika harus mengirim kartu pendengar secara manual ke studio demi mengikuti kuis atau sekadar menyampaikan salam.
"Saya masih sangat ingat acara favorit saya dulu di RRI Makassar, di antaranya Siaran Pedesaan dan sandiwara radio, khususnya Butir-Butir Pasir di Laut, karena itu benar-benar menemani hari-hari saya sejak tahun 1985," ujar Sumi Dg Lu'mu dengan nada penuh antusias saat tersambung lewat sambungan telepon.
Antusiasme serupa juga terpancar dari pasangan suami istri penyandang disabilitas netra asal Pampang, Umar dan Nursia, yang telah bertahun-tahun menjadikan RRI sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Nursia bertutur dengan penuh emosi mengenai betapa pentingnya kehadiran RRI Makassar bagi keseharian mereka di rumah. Keterbatasan penglihatan sama sekali tidak membatasi mereka untuk menikmati informasi dan hiburan, justru membuat radio menjadi jendela dunia yang paling setia menemani hari-hari mereka.
"RRI Makassar adalah hiburan dan teman keseharian yang selalu setia membersamai kami karena keterbatasan penglihatan, sehingga radio menjadi satu-satunya media hiburan yang paling bisa diandalkan," ungkap Nursia mewakili suaminya saat mengudara di Pro 4 RRI Makassar.
Tidak hanya dari dalam kota Makassar, sambungan telepon juga datang dari pendengar setia di luar daerah, salah satunya Ahmad Yani Tasmun yang menelepon langsung dari Kabupaten Soppeng. Sebagai pendengar yang mulai menyimak RRI sejak era 90-an, Ahmad menyimpan banyak memori indah yang tidak terlupakan sepanjang hidupnya. Ia menceritakan bagaimana gelombang radio RRI tidak sekadar berfungsi sebagai media hiburan semata, melainkan juga jembatan yang mempertemukan takdir hidupnya dengan sang pendamping jiwa.
"RRI tidak hanya menjadi media hiburan bagiku, bahkan RRI menjadi penyambung untuk bertemu dengan jodohku dulu lewat acara Kode Siapa Kota Daeng Menyapa, dari situlah awal mulanya bertemu dengan pasangan hidup saya," kenang Ahmad Yani Tasmun sambil bernostalgia.
Selain kisah romantis, Ahmad Yani juga menambahkan satu kenangan khas yang selalu dirindukannya dari siaran RRI Makassar pada masa lampau, khususnya di bulan suci Ramadan. Program siaran sahur yang dibawakan oleh tokoh-tokoh lokal menjadi memori kolektif yang sangat melekat di benak masyarakat pendengar setia. Suasana kekeluargaan yang dibangun melalui udara seolah merangkul seluruh pendengar yang sedang bersiap menyambut waktu fajar.
| Baca juga: Indra Syarif Kembali lewat Lagu “Sendiri” |
"Yang paling berkesan dari siaran RRI saat itu adalah acara Dialog Pak Kyai dan Dg Naba yang menemani kita saat sahur menjelang imsak," tambahnya menutup perbincangan di udara.
Acara "Kelongta Rong" di Pro 4 RRI Makassar ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen lewat suara, tetapi juga memperlihatkan betapa kuatnya loyalitas audiens terhadap lembaga penyiaran publik ini. Berbagai cerita yang masuk membuktikan bahwa RRI telah mendarah daging dan menjadi bagian dari sejarah hidup masyarakat dari berbagai kalangan usia dan latar belakang fisik. Nostalgia ini sekaligus merefleksikan peran strategis radio yang tidak pernah lekang oleh waktu meskipun era digital terus berkembang pesat di tengah masyarakat.
Menjelang usia RRI yang ke-81 tahun, banjirnya apresiasi dan cerita dari para pendengar menjadi kado terindah bagi seluruh jajaran pengelola RRI Makassar. Partisipasi aktif dari Sumi, pasangan Umar dan Nursia, hingga Ahmad Yani Tasmun di Soppeng menunjukkan bahwa RRI tetap menjadi ruang publik yang inklusif dan ramah bagi siapa saja. Hubungan yang terjalin selama puluhan tahun ini menjadi bukti konkret bahwa kedekatan emosional antara pendengar dan penyiar di RRI tidak akan pernah luntur oleh perubahan zaman.
Rangkaian acara interaktif jelang HUT RRI ini diharapkan dapat terus merawat tradisi mendengar radio di tengah masyarakat luas sekaligus mempererat tali silaturahmi antargenerasi pendengar. RRI Makassar berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inspiratif dan menghibur yang relevan dengan kebutuhan pendengarnya. Dengan semangat kebersamaan yang terpancar melalui acara "Kelongta Rong", RRI siap melangkah menyongsong usia ke-81 tahun dengan terus mengudara sebagai suara bangsa yang menemani setiap jengkal perjalanan hidup pendengarnya di seluruh pelosok nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....