Pelaku Usaha Sambal dituntut Mampu Menghasilkan Produk dengan Cita Rasa Khas

  • 24 Agt 2026 20:16 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pelaku usaha sambal dituntut tidak hanya mampu menghasilkan produk dengan cita rasa yang khas, tetapi juga menjaga kualitas, kebersihan, daya tahan, hingga kemasan yang menarik dalam menjalankan bisnis sambal berbahan dasar tuna asap, paru, dan cumi. Hal tersebut dikatakan Eva Djafar - Owner Kaya Sambal dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar edisi, Minggu, 23 Agustus 2026

Eva menjelaskan, usaha sambal tuna asap berawal sekitar 2010 ketika dirinya diperkenalkan dengan makanan khas Gorontalo yaitu ikan asap yang terbuat dari ikan sagela atau ikan tuing-tuing olahan tersebut kemudian dimakan ternyata enak dan memiliki cita rasa yang menarik.

“Dari cita rasa yang enak dan menarik tersebut akhirnya saya bersama keluarga berpikir untuk mencoba mengembangkan produk serupa di Makassar tetapi tidak menggunakan ikan sagela atau ikan tuing-tuing melainkan menggunakan ikan cakalang, karena lebih mudah diperoleh. “Waktu itu di Makassar belum ada ikan asap. Jadi, kami berpikir bagaimana caranya supaya bisa mengasap ikan sendiri,” ujar Eva.

Eva menambahkan proses pengembangan produk tidak langsung menghasilkan sambal dengan kualitas seperti saat ini. Eva mengaku sempat mengalami berbagai kegagalan, terutama karena ikan diasap terlalu lama sehingga teksturnya menjadi keras. Setelah beberapa kali melakukan percobaan, durasi pengasapan kemudian disesuaikan hingga mendapatkan tekstur yang lebih sesuai.

Lebih lanjut Eva menambahkan produk tersebut awalnya diberi nama “Baletapa” dengan brand “Rumah Rumpuh”. Pada tahap awal, usaha tersebut dijalankan oleh kakaknya, sementara Eva membantu dari sisi promosi. Seiring berjalannya waktu, kakaknya berhenti mengelola usaha tersebut dan Eva kemudian mengambil alih.

“Resep yang sebelumnya digunakan dikembangkan kembali hingga lahirlah brand Kaya Sambal. Nama Kaya Sambal memiliki filosofi tentang harapan terhadap keberlimpahan dan rezeki. Nama tersebut diharapkan dapat menjadi doa agar usaha yang dijalankan terus berkembang dan memberikan manfaat”, jelas Eva.

Dalam proses produksi, Eva mengaku masih terlibat langsung bersama satu hingga dua orang tenaga yang membantunya. Karena keterbatasan tenaga, proses produksi dilakukan secara bertahap. Satu hari digunakan untuk proses pengasapan tuna, hari berikutnya untuk menyiapkan bumbu, kemudian dilanjutkan dengan proses memasak.

“Kalau stok tuna asap dan paru jika bumbu sudah siap, proses memasaknya hanya sekitar satu jam. Sementara itu untuk produk paru terlebih dahulu direbus, kemudian dimarinasi sebelum diolah menjadi sambal. Tetapi keseluruhan proses produksi bisa berlangsung seharian karena ada beberapa tahap yang harus dilakukan, untuk produk cumi, proses produksinya memiliki perlakuan berbeda karena menggunakan cumi segar yang tidak dapat disimpan terlalu lama. Setelah menerima bahan dari pemasok, cumi langsung diolah dan dipasarkan”, jelas Eva.

Dari sejumlah produk yang dihasilkan, sambal tuna asap menjadi salah satu produk yang paling diminati konsumen. Menurut Eva, proses pengolahannya memang lebih rumit, tetapi cita rasa khas ikan asap menjadi daya tarik tersendiri. Ia menjelaskan, proses pembuatan sambal tuna asap membutuhkan perhatian lebih, terutama dalam pengolahan ikan agar aroma dan rasa khas asap tetap terasa tanpa mengurangi kualitas sambal. Tutup Eva.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....