Dapur_lisalisa Utamakan Cita Rasa Tradisional dalam Sajian Katering

  • 22 Agt 2026 11:08 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Awal mula usaha Katering ini berdiri dari kebiasaan melihat almarhumah ibu yang pandai memasak. Dari situlah muncul ketertarikan untuk belajar memasak secara otodidak Usaha Katering dengan nama Lima Sannang mulai dirintis sejak 2008.

Sementara itu, brand dapur_lisalisa sendiri mulai berdiri pada 2023 dan hingga kini telah berjalan sekitar tiga tahun. Hal tersebut dikatakan Rosmiati Sannang - Owner :dapur_lisalisa dalam Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar edisi, Kamis, 20 Agustus 2026.

Rosmiati atau sering di sapa Ati ini menjelaskan, sebelum menggunakan nama dapur_lisalisa, usaha ini terlebih dahulu dikenal dengan nama Lima Sannang. Nama tersebut memiliki makna khusus, karena “Lima” merujuk pada lima bersaudara, sedangkan “Sannang” merupakan nama keluarga.

Ati menambahkan pada masa awal merintis usaha dengan nama Lima Sanang, layanan katering mulai diperkenalkan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan atau diklat. Salah satu pelanggan pertama adalah Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku Kabupaten Gowa.

Seiring berjalannya waktu, jumlah pelanggan terus bertambah hingga usaha berkembang seperti sekarang “Untuk menu andalan, katering dapur_lisalisa yang banyak diminati pelanggan adalah daging lada hitam atau yang lebih dikenal dengan sapi lada hitam. Selain itu, Dapur Lisa juga tetap mempertahankan menu tradisional, salah satunya daging topak lada”, kata Ati.

lebih lanjut Ati menambahkan katering dapur_lisalisa juga tetap mempertahankan menu tradisional, yaitu daging topak lada walaupun terkadang ada juga makanan kekinian yang di sajikan seperti fast food atau makanan siap saji contoh spagetti makanan kekinian sebenarnya memiliki tempat masing-masing sehingga tidak selalu harus digabungkan. Penggabungan menu harus mempertimbangkan karakter dan cita rasa setiap masakan agar tidak menghilangkan kekhasannya.

“Dalam menciptakan variasi menu, komponen setiap hidangan juga perlu diperhatikan. Misalnya, masakan rumahan khas Sulawesi Selatan seperti ikan palumara dapat dipadukan dengan sayur bening, sambal cobek-cobek, ikan bakar, maupun raca mangga atau mangga serut. Kombinasi tersebut memiliki karakter cita rasa tersendiri sehingga tidak selalu cocok jika dipadukan dengan makanan kekinian”, jelas Ati.

Dalam menjalankan usaha katering, khususnya untuk kegiatan diklat, katering dapur_lisalisa juga berupaya menyesuaikan menu dengan latar belakang peserta. Sebelum menentukan menu, pihaknya terlebih dahulu berkomunikasi dengan ketua panitia untuk mengetahui asal daerah mayoritas peserta.

“Sebagai contoh, apabila sebagian besar peserta berasal dari Manado, menu dapat disesuaikan dengan selera masyarakat setempat yang cenderung menyukai makanan bercita rasa pedas. Hidangan seperti ayam woku, ikan woku, dan ikan rica-rica dapat menjadi pilihan. Namun, penyesuaian tersebut tetap dilakukan tanpa meninggalkan makanan khas Sulawesi Selatan”, tutup Ati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....