Inovasi Ceker Ayam Menjadi Menu Favorit Semua Kalangan

  • 24 Jul 2026 10:32 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR — Olahan ceker ayam kini tak lagi dipandang sebelah mata sebagai hidangan pelengkap semata. Di tangan kreatif pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), bagian ayam yang dahulunya identik dengan isi sup ini berhasil disulap menjadi santapan favorit berbagai kalangan. Hal tersebut terungkap dalam program bincang-bincang Teras UMKM yang disiarkan di Pro 4 RRI Makassar pada Rabu 24 Juli 2026.

Diskusi interaktif tersebut menghadirkan Riyanti, pemilik (owner) dari usaha kuliner "Ceker Pedas Tamamaung". Dalam kesempatan tersebut, Riyanti membagikan kisah perjalanannya dalam membangun dan mengembangkan bisnis kuliner berbasis ceker ayam hingga meraih kesuksesan seperti sekarang.

Riyanti owner Ceker Pedas Tamamaung

Perjalanan usahanya bermula di masa krisis ketika situasi pandemi COVID-19 merebak beberapa tahun lalu. Kala itu, kebijakan dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja sempat membuatnya bingung untuk menentukan arah dan langkah keberlanjutan ekonominya.

"Awalnya saat kami dirumahkan oleh perusahaan tempat kami bekerja, saya tinggal di rumah dan bingung mau kerja apa. Akhirnya iseng-iseng, kebetulan ibu saya suka buat ceker ayam. Akhirnya aku coba untuk memasarkan dengan open PO (pre-order) melalui marketplace. Akhirnya ada yang berminat dan berlanjut repeat order," ujar Riyanti.

Guna mempertahankan minat pelanggan, inovasi varian menu menjadi kunci utama keberhasilan Ceker Pedas Tak Mau Tamamaung. Dari yang mulanya hanya olahan ceker pedas biasa, kini usahanya berkembang pesat dengan menghadirkan beragam variasi modern seperti ceker crispy hingga ceker tanpa tulang (boneless).

Proses pengembangan resep dan variasi menu baru tersebut dilakukan secara adaptif dengan mendengarkan permintaan serta masukan langsung dari para konsumen. Riyanti memanfaatkan platform digital seperti YouTube sebagai wadah belajar mandiri untuk meracik bumbu dan mengeksplorasi teknik memasak yang tepat bagi produknya.

Meskipun merintis usaha dari pemukiman padat atau lorong, Riyanti membuktikan bahwa keterbatasan lokasi bukan menjadi penghalang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pemanfaatan media sosial secara aktif melalui pembuatan konten kreatif dan strategi promosi digital menjadi alat ampuh dalam mendongkrak popularitas produknya.

"Meskipun jualan dari lorong, tapi dengan adanya pemanfaatan promosi lewat medsos melalui buat konten dan spill, akhirnya banyak yang mulai pesan. Awalnya buka hanya 1 kilo saja, dan seiring dengan adanya inovasi menu dan masukan dari pelanggan hingga akhirnya kami juga masuk dalam GoFood, akhirnya mulai meningkat omsetnya. Hingga saat ini jumlah pesanan naik bahkan sampai 10 kilo dalam sehari. Di era sekarang zaman digital, kita buatkan proses pembuatannya dan kita selalu pakai bahan-bahan segar," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....