Gen Z dan Godaan Digital: OJK Dorong Bijak Kelola Keuangan
- 17 Sep 2026 09:01 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Kemudahan teknologi digital membuat Generasi Z semakin dekat dengan berbagai layanan keuangan. Mulai dari e-wallet, mobile banking, hingga PayLater kini dapat diakses dengan mudah melalui telepon pintar. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan literasi keuangan agar tidak justru menimbulkan persoalan finansial.
Hal tersebut disampaikan Sarafina Yusriah, Staf Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Sulsel Sulbar, dalam program Inflasi dan Investasi RRI Makassar, Rabu, 16 September 2026, bersama host Arfan Yusri. Menurut Sarafina, salah satu tantangan Gen Z adalah gaya hidup konsumtif yang dipengaruhi media sosial, tren, hingga berbagai promosi digital. “Kita harus bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang menjadi keinginan,” ujar Sarafina.
Ia menjelaskan, kemudahan memperoleh layanan keuangan digital, termasuk fasilitas PayLater dan pinjaman, harus diikuti kemampuan mengelola utang. Penggunaan fasilitas tersebut tanpa memperhitungkan kemampuan membayar dapat membuat seseorang masuk dalam siklus utang. “Jangan sampai karena kemudahan akses pinjaman, akhirnya kita gali lubang tutup lubang. Kita harus memahami kemampuan kita dalam membayar cicilan,” jelasnya.
Untuk membangun ketahanan finansial, Sarafina mendorong generasi muda memanfaatkan usia produktif untuk mulai menabung dan berinvestasi. Selain itu, dana darurat perlu dipersiapkan sebagai perlindungan ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga. “Dana darurat itu penting, karena kita tidak pernah tahu kapan ada kebutuhan yang sifatnya mendesak atau terjadi penurunan pendapatan,” katanya.
Sarafina juga mengingatkan bahwa tingginya penggunaan produk keuangan belum tentu diikuti pemahaman yang sama baiknya. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi dengan memahami manfaat, risiko, biaya, serta ketentuan produk sebelum menggunakannya. “Sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan, masyarakat harus membaca Ringkasan Informasi Produk dan Layanan atau RIPLAY, sehingga kita tahu apa yang kita setujui,” ungkapnya.
Dalam mengatur keuangan, ia mengenalkan prinsip “sisihkan, bukan sisakan”, yakni menyisihkan dana untuk kebutuhan keuangan sejak awal menerima penghasilan. Kebutuhan pokok menjadi prioritas, sementara sebagian pendapatan dapat dialokasikan untuk cicilan, tabungan, investasi, dana darurat maupun kebutuhan sosial. Menurutnya, besaran setiap pos tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Menghadapi FOMO atau Fear of Missing Out, Gen Z juga diminta tidak menjadikan media sosial sebagai ukuran kondisi finansial. “Jangan menjadikan media sosial sebagai standar finansial kita. Apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya,” tutur Sarafina. Ia mengajak generasi muda lebih tenang dan rasional sebelum mengikuti tren konsumsi maupun mengambil keputusan investasi.
Sementara untuk menghindari investasi bodong dan berbagai bentuk penipuan digital, Sarafina mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip 2L, Legal dan Logis. Produk maupun pihak yang menawarkan investasi harus dipastikan legal, sementara keuntungan yang dijanjikan juga harus masuk akal dan sebanding dengan risikonya. Jika menjadi korban scam, masyarakat dapat segera melapor melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) dan menghubungi kontak OJK 157. “Jangan mudah tergiur dengan keuntungan yang tidak logis. Pastikan legalitasnya dan pahami risikonya sebelum mengambil keputusan,” pesan Sarafina.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....