Kenaikan Suku Bunga Dorong Masyarakat Lebih Bijak Mengelola Keuangan

  • 12 Jul 2026 13:16 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Kenaikan suku bunga acuan tidak hanya berdampak pada sektor perbankan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kondisi keuangan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki pinjaman atau cicilan dengan bunga mengambang (floating rate). Andriyan Sayed (Econom and Lecturer The Indonesia Capital Market Institute) dalam Obrolan Khusus Investasi Pro4 RRI Makassar pada hari Sabtu, 11 Juli 2026, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga dapat diibaratkan seperti "silet bermata dua" karena menghadirkan dampak yang berbeda bagi setiap kelompok masyarakat.

Menurutnya, masyarakat yang memiliki kredit dengan bunga mengambang akan merasakan tekanan ekonomi yang lebih besar. Kenaikan suku bunga menyebabkan cicilan menjadi lebih mahal sehingga pengeluaran rumah tangga meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menurunkan daya beli masyarakat karena sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk membayar cicilan yang lebih besar.

"Ketika suku bunga dinaikkan, masyarakat, khususnya rumah tangga yang memiliki kredit, akan mengalami tekanan ekonomi. Jika sebelumnya cicilan yang dibayarkan lebih rendah, sekarang menjadi lebih tinggi, terutama bagi mereka yang menggunakan skema bunga mengamban", ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga memberikan keuntungan bagi masyarakat yang menyimpan dananya dalam bentuk deposito atau instrumen simpanan berbunga. Mereka berpotensi memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi seiring meningkatnya suku bunga acuan Bank Indonesia.

Adrian menjelaskan bahwa ketika suku bunga acuan meningkat, perbankan umumnya turut menyesuaikan suku bunga deposito. Bahkan, pada beberapa bank, nasabah masih memiliki peluang untuk memperoleh tingkat bunga yang lebih kompetitif melalui negosiasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, menurutnya, kondisi suku bunga yang tinggi dapat menjadi momentum yang lebih baik bagi masyarakat yang ingin menempatkan dana pada instrumen investasi berisiko rendah seperti deposito. Sebaliknya, masyarakat perlu lebih berhati-hati apabila berencana mengambil kredit baru karena biaya pinjaman cenderung menjadi lebih mahal.

"Kalau ditanya apakah ini saat yang tepat untuk berinvestasi, jawabannya bisa iya, terutama pada instrumen yang diuntungkan oleh kenaikan suku bunga. Namun, untuk mengambil kredit tentu perlu dipertimbangkan lebih matang karena biayanya menjadi lebih tinggi. Meski demikian, keputusan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keuangan masing-masing”, katanya.

Dengan memahami dampak kenaikan suku bunga, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan keuangan secara lebih rasional dan terukur, sehingga mampu menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika perekonomian. Pada akhirnya, setiap keputusan finansial sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, serta tujuan keuangan masing-masing agar tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....