Jagung Memiliki Potensi Ekonomi Bagi Masyarakat Perkotaan

  • 13 Jul 2025 18:16 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar: Jagung selama ini dikenal sebagai pangan pokok alternatif di pedesaan, namun belum banyak disadari bahwa tanaman ini juga menyimpan potensi ekonomi tersembunyi bagi masyarakat perkotaan. Dengan meningkatnya tren urban farming atau pertanian perkotaan, jagung mulai dilirik sebagai komoditas yang tidak hanya mudah dibudidayakan di lahan sempit, tetapi juga memiliki nilai jual tinggi. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Makassar, banyak komunitas tani kota mulai menanam jagung di halaman rumah, rooftop, atau lahan tidur yang sebelumnya tidak produktif.

Keunggulan jagung terletak pada fleksibilitasnya dalam pengolahan dan permintaan pasar yang konsisten. Jagung manis segar, pipilan kering, hingga olahan seperti jagung bakar, jasuke (jagung susu keju), dan keripik jagung terus digemari konsumen di berbagai segmen usia.

Menurut wikipedia.org selain untuk konsumsi langsung, produk turunan jagung juga menawarkan potensi ekonomi lanjutan. Tepung jagung, minyak jagung, dan bioetanol adalah hasil olahan yang bernilai tambah tinggi. Urban farming jagung tak hanya membantu menciptakan sumber penghasilan alternatif, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada distribusi pangan dari luar kota. Dalam konteks krisis pangan dan inflasi harga bahan pokok, produksi jagung lokal di wilayah perkotaan bisa menjadi solusi yang berkelanjutan.

Pertanian perkotaan mampu menyumbang hingga 10–15% dari kebutuhan pangan lokal jika didukung secara sistematis. Jagung, yang memiliki masa panen relatif singkat 60–75 hari, menjadi pilihan ideal untuk rotasi tanam cepat di lingkungan urban. Dengan teknik hidroponik atau polibag sederhana, masyarakat kota dapat memanen sendiri jagung berkualitas tanpa pestisida berbahaya.

Dari sisi ekonomi mikro, hasil panen jagung skala rumahan bisa dijual melalui platform digital atau bazar komunitas. Di beberapa kota, inisiatif seperti Pasar Tani Digital dari Kementan dan aplikasi seperti Sayurbox dan Tanihub membuka ruang bagi petani urban untuk menjual langsung produk mereka ke konsumen akhir.

Tak kalah penting, urban farming jagung juga berkontribusi pada aspek sosial dan lingkungan. Aktivitas menanam bersama di komunitas dapat mempererat hubungan sosial antarwarga, mengurangi stres, dan menciptakan ruang hijau mikro yang membantu menyerap polusi udara. Di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi masif, adaptasi pertanian perkotaan berbasis komoditas strategis seperti jagung menjadi langkah inovatif yang layak didorong pemerintah daerah.

Potensi ekonomi tersembunyi dari buah jagung bagi masyarakat perkotaan bukan lagi sekadar wacana. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, teknologi pertanian sederhana, dan semangat gotong royong komunitas urban farming, jagung bisa menjadi penopang ekonomi rumah tangga sekaligus pilar ketahanan pangan perkotaan. Inilah saatnya kota-kota besar di Indonesia melihat jagung bukan sekadar tanaman desa, tetapi sebagai peluang emas di halaman rumah sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....