Sinrilik : Seni Bertutur Makassar yang Perlahan Terlupakan di tengah Era Digital

  • 29 Sep 2026 14:15 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, MAKASSAR : Ketika masyarakat semakin terbiasa menikmati cerita melalui layar ponsel, suara seorang penutur yang menyampaikan kisah secara langsung mungkin terdengar sebagai sesuatu yang asing. Padahal, masyarakat Makassar memiliki tradisi lisan yang dahulu menjadi bagian dari berbagai kegiatan sosial, yaitu Sinrilik.

Dikutip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, “Sinriliq”; Sinrilik merupakan salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Makassar. Dalam pertunjukannya, cerita disampaikan secara berirama atau dilagukan, baik dengan maupun tanpa alat musik. Dalam tradisi yang menggunakan alat musik, penutur mengiringi cerita dengan alat musik gesek yang disebut sinriliq. Istilah sinriliq sendiri dapat merujuk pada alat musik, tradisi bertutur, maupun teks cerita yang dibawakan.

Pada masa lalu, Sinrilik dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan masyarakat Makassar, antara lain perkawinan, sunatan, naik rumah baru, dan pesta panen. Tradisi ini juga dipertunjukkan ketika masyarakat beristirahat setelah bekerja atau saat ronda malam. Dengan demikian, Sinrilik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Salah satu cerita Sinrilik yang dikenal luas adalah Sinrilik Kappalak Tallung Batua. Kajian Nasruddin dari Balai Bahasa Ujung Pandang mencatat bahwa Sinrilik Kappalak Tallung Batua termasuk judul yang populer di kalangan masyarakat berlatar budaya dan bahasa Makassar. Beberapa judul lain yang disebutkan dalam kajian tersebut antara lain I Datu Museng, I Makdik Daeng Rimakka, dan I Manakkuk Cakdi-Cakdi.

Sinrilik juga memiliki nilai sebagai media untuk menyimpan sejarah, nilai budaya, dan pandangan hidup masyarakat. Penelitian Inriati Lewa mengenai Sinrilik Kappalak Tallumbatua menunjukkan bahwa cerita tersebut memuat informasi mengenai kerajaan Gowa, sikap heroisme, ajaran moral, adat-istiadat, dan kepercayaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat Makassar.

Namun, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, “Sinriliq”; Lewa (2015), Universitas Gadjah Mada, menjelaskan keberadaan Sinrilik menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat bahwa kesenian ini semakin kurang diminati dan jumlah pelakunya semakin berkurang karena hadirnya berbagai bentuk hiburan baru. Penelitian Lewa juga mencatat bahwa penyampaian Sinrilik pada masa kini sudah sangat jarang dilakukan dan jumlah pasinrilik atau penuturnya semakin berkurang.

Tantangan tersebut juga berkaitan dengan penggunaan bahasa Makassar. Penelitian Rahim, Amin, Nursalam, dan Sari pada 2025 menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Makassar di kalangan generasi muda mengalami penurunan. Penelitian tersebut menempatkan Sinrilik sebagai salah satu bentuk sastra tutur yang dapat membantu mempertahankan bahasa Makassar sekaligus menjaga nilai budaya, sejarah, dan karakter masyarakat.

Karena itu, pelestarian Sinrilik dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang dekat dengan generasi muda. Penelitian tahun 2025 tersebut merekomendasikan pengajaran di sekolah, dokumentasi digital, dan pemanfaatan teknologi modern sebagai bagian dari upaya mempertahankan sastra tutur Sinrilik. Cara ini memungkinkan tradisi lama diperkenalkan melalui media baru tanpa menghilangkan identitas budayanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....