Tradisi Ma’bugi, Simbol Rasa Syukur Masyarakat Toraja

  • 28 Sep 2026 19:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Tradisi Ma’bugi merupakan ritual kepercayaan Aluk Todolo, simbol ungkapan syukur serta rasa terima kasih dalam kepada Puang Matua, deata-deata (dewa-dewa) dan roh leluhur atas berkat dan perlindungan. Masyarakat dulu mengungkapkan tanda ungkapan syukur melalui ritual ini dengan cara memberikan sesajen-sesajen berupa ayam dan lambang (nasi ketan bambu), serta menari sambil bernyanyi.

Tradisi Ma'bugi' dilakukan di tempat Pa'bugiran (tempat untuk Ma'bugi'), yaitu tempat yang lapang dan luas biasanya sawah sehabis panen yang sudah kering. Ma'bugi biasanya dilaksanakan selama enam bulan untuk mencapai puncak upacaranya. Dalam enam bulan tersebut, ada waktu pada malam-malam tertentu orang-orang akan melakukan "Nondo" dengan membentuk lingkaran sambil saling mengaitkan tangan dan menyanyikan syair-syair ungkapan syukur dan di bantu oleh teriakan "Meoli" dari penonton,

Dilansir dari laman Wikipedia Indonesia puncak acara Ma'bugi' dilaksanakan pada siang hari di mana seluruh hasil bumi di daerah tersebut di bawa serta dalam arena upacara. Hasil bumi tersebut digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut.

Mengawali puncak acara Ma'bugi', pesertame laksanakan "Nondo" dan menyanyikan syair. Semakin lama nyanyian tersebut akan semakin ramai dan pada puncak keramaian itu akan ada peserta yang kerasukan. Peserta yang kerasukan itu akan melakukan hal-hal yang tidak biasa yang secara logika manusia dapat melukai dirinya.

Dalam puncak acara Ma'bugi' ini, terdapat beberapa prosesi yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang kesurupan, diantaranya :

Mantere, yaitu prosesi di mana orang yang kerasukan akan mengiris-iris bagian tubuhnya (leher, tangan, perut) dengan parang yang tajam hingga berdarah namun sesaat setelah darah mengucur dia akan mengusapkan daun Tabang di luka itu dan langsung sembuh (Daun ini sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Toraja dalam setiap upacara yang dilakukan). Setelah kerasukan, maka selesai pulalah prosesi Ma'bugi' yang diakhiri dengan makan bersama oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut.

Tradisi Ma’bugi tidak hanya menjadi bagian dari warisan kepercayaan Aluk Todolo, tetapi juga mencerminkan nilai syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta kebersamaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaan tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga dan mengenalkan kekayaan budaya lokal Toraja kepada generasi muda dan masih dilestarikan hingga saat ini di sejumlah wilayah Toraja, meskipun pelaksanaannya tidak berlangsung secara rutin dan dalam perkembangannya mengalami perubahan sesuai dengan kondisi sosial dan keagamaan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....