Tradisi Mabbaca Doang, Tradisi Menyambut Musim Tanam Padi

  • 03 Agt 2026 13:21 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Tradisi Mabbaca Doang adalah doa bersama masyarakat Bugis menjelang musim tanam padi. Mabbaca Doang tidak sekadar ritual tahunan biasa, melainkan simpul perekat tali silaturahmi sekaligus wujud rasa syukur dan permohonan keselamatan masyarakat petani.

Tradisi Mabbaca Doang Di tengah arus modernisasi pertanian, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai benteng kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk senantiasa harmonis dengan alam dan Sang Pencipta sebelum memulai olah tanah. Sehingg menjadi topik utama dalam program Baribasa Pro 4 RRI Makassar, Senin, 3 Agustus 2026.

Antusiasme pendengar Pro 4 RRI Makassar terlihat begitu tinggi sepanjang jalannya siaran interaktif. Berbagai lapisan masyarakat turut ambil bagian melalui saluran telepon dan pesan singkat, membagikan ingatan kolektif serta pengalaman personal mereka terkait keseruan dan kehangatan pelaksanaan Mabbaca Doang di daerahnya masing-masing.

Salah satu pendengar, Pak Sipong dari Pao-Pao, menceritakan kenangan mendalam mengenai kesibukan para ibu di dapur sejak subuh hari sebelum kegiatan turun sawah dimulai. Beliau menuturkan bahwa para ibu menyiapkan sajian khas seperti songkolo, kue lapis, hingga umbah-umbah (onde-onde) yang ternyata disatukan bukan tanpa alasan, melainkan penuh dengan lambang dan filosofi mendalam.

"Dulu sebelum turun sawah, ibu-ibu di rumah dari subuh sudah sibuk menyiapkan makanan dan kue-kue tradisional seperti onde-onde, kue lapis, dan songkolo. Ternyata itu semua ada maknanya: songkolo melambangkan kemakmuran, kue lapis melambangkan harapan agar rezeki datang berlapis-lapis, sedangkan umbah-umbah atau onde-onde itu disimbolkan supaya rezeki kita terus naik, " Ujar Sipong.

Menanggapi cerita tersebut, siaran kian hangat ketika membahas bagaimana kuliner tradisional dalam tradisi Bugis tidak sekadar pemuas dahaga dan lapar, melainkan media doa yang disimbolkan lewat makanan. Setiap tekstur, bentuk, dan rasa dari kue tradisional tersebut menjadi wujud pengharapan kolektif agar hasil panen mendatang melimpah ruah dan membawa kebaikan bagi seluruh warga desa.

Tak kalah menarik, pendengar lainnya yakni Bu Fatma dari Gowa, memberikan pandangan kritis dan meluruskan persepsi masyarakat terkait makna religiusitas di balik tradisi Mabbaca Doang. Beliau menegaskan bahwa substansi utama dari ajaran leluhur Bugis adalah menyandarkan segala urusan dan memohon restu hanya kepada Allah SWT sebelum memulai pekerjaan besar.

"Orang-orang tua dulu itu selalu memohon restu kepada Allah SWT sebelum melakukan sesuatu, termasuk sebelum menanam padi. Masyarakat Bugis sangat religius dan menyandarkan segalanya kepada Allah SWT. Namun, sebagian masyarakat kadang punya niat atau pemahaman berbeda; ada yang menganggap kalau tidak bikin acara mabbaca-baca nanti bisa dapat sial atau karma. Padahal bukan itu maksudnya, tujuan inti orang dulu melakukan tradisi membaca doa ini semata-mata untuk meminta doa dan restu kepada Allah SWT", Ucap Fatma.

Melalui siaran Baribasa Pro 4 RRI Makassar ini, diharapkan masyarakat khususnya generasi muda dapat memahami esensi kebudayaan Bugis secara utuh. Penjelasan dari para pendengar seperti Pak Sipong dan Bu Fatma makin mempertegas bahwa tradisi Mabbaca Doang adalah bentuk perpaduan indah antara nilai spiritualitas, rasa syukur, dan nilai estetika lokal yang patut terus dilestarikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....