Filosofi Mappalili, Tradisi Petani Bugis Memohon Keberkahan Panen

  • 04 Agt 2026 18:31 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah gempuran modernisasi dan mekanisasi pertanian, masyarakat agraris suku Bugis, terus memegang teguh warisan leluhur mereka: Tradisi Mappalili. Ritual tahunan menjelang musim tanam ini bukan sekadar prosesi seremonial turun ke sawah, melainkan sebuah bentuk akulturasi budaya dan keislaman yang sarat dengan fungsi sosiologis serta penguatan solidaritas kelompok.

Sebuah kajian ilmiah yang dipublikasikan dalam Jurnal Interdisipliner Sosiologi Agama (JINSA) Vol. 04 No. 2 (2024) oleh akademisi Citra Buana Halil (Universitas Khairun) dan Retno Angraeni S (Universitas Wirabhakti) mengupas secara mendalam bagaimana tradisi ini bertahan, bertransformasi, dan dimaknai oleh masyarakat setempat dari kacamata sosiologi.

Secara bahasa, kata Mappalili berakar dari Palili, yang bermakna menjaga atau melindungi tanaman padi dari gangguan hama dan kerusakan. Dahulu kala, ritual Mappalili hanya dilaksanakan sekali dalam setahun—tepatnya saat memasuki awal musim hujan di bulan November—mengingat sistem persawahan masih mengandalkan sistem tadah hujan.

Seiring berkembangnya zaman dan ketersediaan sistem irigasi teknis, petani kini mampu memanen padi dua hingga tiga kali dalam setahun. Meski demikian, tradisi Mappalili tetap rutin diselenggarakan setahun sekali sebagai penanda resminya pembukaan musim tanam utama.

Secara historis, tradisi Mappalili diperkirakan mulai masuk dan berkembang di Kabupaten Pinrang sekitar tahun 1948. Kisah warga menyebutkan bahwa seorang pedagang bernama Nenek Tulada yang menjual hasil panen ke Polewali menerima pesan dari ulama kharismatik Gurutta Muh Tahir (Imam Lapeo) agar senantiasa menggelar doa selamat Mappalili setiap kali hendak turun ke sawah, sejak saat itu, Mappalili rutin dilaksanakan oleh masyarakat Pinrang untuk memohon keberkahan panen serta perlindungan dari hama.

Salah satu poin penting yang disoroti dalam hasil riset ini adalah terjadinya peleburan budaya dan nilai-nilai Keislaman (akulturasi). Sebelum ajaran Islam meluas, ritual awal musim tanam di Sulawesi Selatan kental dengan kepercayaan dinamisme serta praktik massorong-sorong (penyerahan sesajen kepada kekuatan gaib).

Namun kini, tradisi Mappalili telah bergeser murni menjadi media pemanjatan doa keselamatan dan kesyukuran yang ditujukan kepada Allah SWT. Praktik penyerahan sesajen telah digantikan dengan pembacaan doa-doa Islami dan musyawarah bersama.

Tiga Rangkaian Utama Tradisi MappaliliPelaksanaan Mappalili di Kabupaten Pinrang umumnya terbagi ke dalam tiga prosesi inti yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah:

  1. Tudang Sipulung (Musyawarah Mufakat):Diikuti oleh pemerintah, kepala desa, kelompok tani, dan warga desa.Para petani berkumpul di sanggar tani atau area persawahan untuk bermusyawarah membahas kendala pertanian musim lalu, potensi ancaman hama, serta menyepakati jadwal tanam bersama.Prosesi ini juga diisi dengan penyuluhan pertanian modern dari pemerintah serta penyajian makanan simbolis (sennung-sennugen), seperti sokko pulu (ketan yang melambangkan keisian) dan tallo (telur yang melambangkan persatuan yang kokoh). Pemotongan hewan ritual juga dilakukan sebagai simbol mengikis sifat kebinatangan (olo-kolo) dari diri manusia.
  2. Mabukka Tana (Pencangkulan Pertama):Penanda resmi dimulainya aktivitas bercocok tanam.Dipimpin oleh Pu’ Imam, prosesi diawali dengan pembacaan doa kepada Allah SWT. Pu’ Imam kemudian mencangkul tanah sawah sebanyak tiga kali yang segera diikuti oleh para petani lainnya. Ritual ini menyimbolkan pengharapan agar tanaman aman dari gangguan hama serta menghasilkan panen melimpah demi menopang ekonomi keluarga.
  3. Manre Sipulung (Makan Bersama):Mempererat tali silaturahmi tanpa sekat sosial.Seluruh lapisan masyarakat duduk bersama menyantap hidangan yang telah disiapkan. Dalam prosesi ini, tidak ada perbedaan status sosial, pangkat, maupun kedudukan; seluruh warga dipandang setara sehingga melahirkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang erat.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....