Menilik Akulturasi Budaya dan Islam dalam Sanggul Simpolong Tettong

  • 23 Agt 2026 20:25 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Tata rias pengantin Bugis Makassar menyimpan kekayaan filosofi yang mendalam melalui setiap detail hiasannya, salah satunya tercermin dalam tatanan rambut tradisional yang dikenal sebagai Sanggul Simpolong Tettong. Sanggul bergaya khas ini bukan sekadar mahkota pelengkap keindahan busana adat, melainkan media penyampaian pesan historis dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Berasal dari Bugis Makassar, bentuk Simpolong Tettong memiliki keunikan visual berupa bentuk menjulang tegak yang menyerupai tanduk kerbau. Bentuk geometris ini membuktikan jejak pengaruh animisme dari era purbakala yang tetap terpelihara dengan harmonis, meskipun masyarakat Bugis-Makassar kini telah lama memeluk agama Islam.

Dalam tradisi masyarakat setempat, tanduk kerbau diyakini memiliki kekuatan gaib dan menjadi lambang ketangguhan. Nilai metafisik tersebut ditransformasikan ke dalam tatanan rambut pengantin sebagai simbol kekuatan, kehormatan, serta penegasan atas kedudukan tinggi perempuan Bugis dalam struktur sosial dan tata kehidupan keluarga.

Kehadiran Simpolong Tattong pada hari pernikahan tidak hanya bertugas memperindah penampilan fisik sang mempelai wanita. Lebih dari itu, tatanan ini memancarkan aura keteguhan dan wibawa, menegaskan bahwa perempuan adalah pilar utama yang patut dihormati dan dijunjung tinggi.

Tata cara pembentukan hiasan kepala tradisional yang terstruktur ini memerlukan keahlian khusus agar dapat berdiri kokoh. Dalam tayangan Chanel youtube indonesiakaya.com, Penata rambut Drs. Bhastian Hendra menjelaskan struktur dasar tatanan tersebut, "Sanggul ini digunakan untuk pengantin Bugis Makassar, sanggul induk dan ini adalah anak sanggul, harus ada dua sanggul. Sebelah kiri ini kita buat anak tattong atau anak sanggul, kemudian supaya berdiri dan kokoh kita ikat pakai lunseng tadi."

Penggunaan lunseng sebagai pengikat menjadi kunci teknis yang membuat anak sanggul di bagian kiri dapat berdiri tegak dan stabil. Konstruksi yang kuat dan simetris ini sekaligus menggambarkan prinsip pendirian yang kokoh bagi seorang perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Setelah struktur dasar sanggul terbentuk sempurna, tahap selanjutnya adalah merangkai berbagai ornamen perhiasan serta hiasan bunga bernilai simbolis. Setiap hiasan yang disematkan mewakili doa keberkahan, kesucian, serta keharmonisan hubungan antara kedua mempelai.

Mengenai detail perhiasan dan aksesoris pelengkap yang dipasangkan pada sanggul, Drs. Bhastian Hendra mempraktikkan sekaligus menjelaskan dalam kanal YouTube Indonesia Kaya, "Setelah itu kita pasang bunga nigubah, bunga eka, bunga sibali, kemudian kembang goyang, setelah itu kita pasangkan juga bando (Patinra), kemudian kita pasangkan 17 kuncup kuncup melati, artinya itu melaksanakan salat 17 rakaat." Ujarnya.

Perpaduan antara bentuk menyerupai tanduk yang sarat nilai sejarah dan rincian 17 kuncup melati memperlihatkan bagaimana kebudayaan lokal menyatu secara harmonis dengan nilai keagamaan. Melalui Gelung Simpolong Tattong, warisan kebudayaan Makassar dan Bugis terus hidup membawa pesan kekuatan, keagungan, serta ketaatan spiritual bagi pengantin yang mengenakannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....