Mappangiso, Kearifan Tradisi Pengobatan Bugis lewat Ibu
- 18 Agt 2026 13:31 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar— Program Obrolan Apresiasi Budaya Lokal di Pro 4 RRI Makassar FM 92,5 MHz kembali hadir menyapa pendengar pada edisi Senin, 17 Agustus 2026. Mengangkat tema Tolak Bala di Tangan Ibu Menyalakan Kearifan Mengembalikan Kehadiran Ritual Mappangiso Dalam Budaya Penyembuhan Bugis", Siaran ini mengupas tuntas kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan dalam merawat dan menyembuhkan anggota keluarga dari penyakit melalui tradisi kuno yang sarat makna.
Hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif tersebut, Dosen Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum. Dalam pemaparannya, beliau menggarisbawahi bahwa pengobatan tradisional Bugis tidak semata-mata mengandalkan ramuan atau bahan fisik, melainkan sebuah prosedur spiritual dan emosional yang dijalani dengan penuh khusyuk. Salah satu yang paling menonjol dalam memori kolektif masyarakat Bugis adalah ritual mappangiso.
Kata mappangiso atau mangiso sendiri berasal dari bahasa Bugis yang berarti mengisap atau menyedot hawa panas dan penyakit keluar dari tubuh penderita. Dalam masyarakat Bugis tradisional, metode pengobatan mengenal beberapa tingkatan, seperti pengobatan melalui mantra/doa (pa'burra atau pa'jappi), pemijatan, hingga ritual tolak bala untuk membuang gangguan. Ritual mappangiso hadir sebagai salah satu bentuk intervensi simbolis dan praktis yang sejak dahulu kala diwariskan dari generasi ke generasi.
Prof. Dr. Gusnawaty membagikan pengalaman masa kecilnya yang menjadi titik awal pemahaman mendalam tentang arti kehadiran seorang ibu dalam penyembuhan. Beliau menceritakan bagaimana saat ia sakit berhari-hari dan obat-obatan modern tak kunjung membuahkan hasil, sang ibu mengambil langkah khusus dengan membakar daun-daun kering di atas panci dan baskom sembari membisikkan doa-doa dalam bahasa Bugis. Proses ilmiah sederhana berupa perbedaan tekanan udara dan uap dalam panci tersebut berpadu harmonis dengan ikatan batin yang kuat.
"Sesungguhnya mungkin bukan sekadar kayu atau bahannya yang menjadi obat, tetapi kehadiran ibu yang hadir penuh di samping saya, yang melakukan suatu proses penyembuhan dengan khusyuk. Kehadirannya di samping saya itulah yang menyembuhkan," ungkap Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum. dalam siaran budaya Pro 4 RRI Makassar.
Lebih lanjut, Prof. Gusnawaty menyoroti daya adaptasi tradisi ini ketika berpindah dari desa ke lingkungan perkotaan seperti Makassar. Meskipun medium materialnya mengalami penyesuaian—seperti daun kering yang diganti kertas khusus atau wadah tanah liat yang berganti panci logam inti dari ritual mappangiso tetap bertahan. Daya guna ritual ini tidak luntur oleh modernisasi karena esensi pengobatannya bertumpu pada sentuhan kasih sayang serta ikatan psikologis yang erat antara ibu dan anak.
Beliau juga memaparkan bahwa riset dan literatur modern membenarkan keampuhan dari pola perhatian penuh ini. Dalam dunia medis dan psikologi, sentuhan fisik seperti belaian, genggaman tangan, dan perhatian tanpa terbagi dari seorang ibu terbukti mampu memicu ketenangan jiwa dan mempercepat pemulihan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Sentuhan kasih sayang ibu ini bahkan telah terjalin kuat sejak masa menyusui, sebuah interaksi alami yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.
"Hari ini sering kali kita lihat seorang ibu hadir secara fisik di samping anaknya, tetapi tangannya terus memegang gadget atau sibuk scrolling. Anak merasakan secara psikologis bahwa ibunya tidak benar-benar hadir. Padahal, yang menyembuhkan itu bukan sekadar kuantitas waktu, melainkan kualitas kehadiran dan perhatian penuh kita bersama anak," tegas Prof. Dr. Gusnawaty.
Diharapkan dengan adanya siaran apresiasi budaya lokal di Pro 4 RRI Makassar ini pun menjadi pengingat berharga bagi pendengar khusus nya masyarakat modern untuk senantiasa merawat tradisi mappangiso bukan sekadar sebagai warisan ritual masa lalu, melainkan sebagai media untuk membangkitkan kembali sentuhan kasih sayang dan ketulusan batin dalam keluarga. Melalui dialog interaktif ini, pendengar diajak menyadari bahwa di tengah canggihnya medis modern, kehangatan jemari dan kehadiran utuh seorang ibu tetap menjadi obat terhebat yang tak pernah usang oleh zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....