Melalui Literasi Lontara, Generasi Muda Diajak Melawan Narkoba

  • 04 Agt 2026 13:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Penguatan nilai-nilai budaya lokal kembali ditegaskan sebagai salah satu benteng ampuh dalam membendung bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Hal tersebut mengemuka dalam program siaran Apresiasi Budaya Lokal Senin, 03 Agustus 2026.

Mengangkat tema, Selamatkan Aksara, Selamatkan Generasi dalam Melawan Narkoba dengan Literasi Lontara, obrolan ini membedah peran vital manuskrip Kuno Sulawesi Selatan bagi kehidupan modern. Hadir sebagai narasumber utama, Akademisi dan Budayawan, Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahman, memaparkan bahwa manuskrip Lontara tidak sekadar artefak sejarah, melainkan sarana edukasi karakter.

Dalam literasi Lontara, terkandung petuah kuno dan resep kehidupan para leluhur yang mampu memandu generasi muda agar terhindar dari perilaku destruktif, termasuk jeratan obat-obatan terlarang. Poin inti yang menjadi sorotan dalam Obrolan Apresiasi Budaya pro 4 tersebut adalah penanaman kembali filosofi Siri’ na Pacce.

Nilai ini mengajarkan rasa malu (siri') ketika hendak melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan sosial maupun agama, serta kepedulian (pacce) terhadap sesama. Dengan meresapi nilai ini, para pemuda akan memiliki benteng moral yang kuat untuk menolak ajakan menggunakan narkoba.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Hj. Nurhayati Rahma menekankan keunggulan historis masyarakat Sulawesi Selatan yang memiliki warisan tulis sendiri. "Aksara Lontara adalah jendela tempat kita melihat aktivitas kebudayaan masa lalu, sekaligus sarana kita memandang masa depan. Di dalam huruf-huruf Lontara tersimpan kearifan yang mengajarkan generasi muda untuk memiliki ketahanan diri dan tidak gampang terjerumus pada hal-hal negatif," ujar Prof. Nurhayati.

Kendati demikian, tantangan besar muncul seiring pesatnya perkembangan zaman, di mana sebagian besar generasi muda hingga para orang tua milenial mulai tidak paham dan kesulitan membaca Lontara. Minimnya pemahaman terhadap konsep Siri’ na Pacce di tingkat keluarga menjadikan edukasi budaya ini perlu ditanamkan secara konsisten sejak dini.

Menghadapi tantangan dunia digital, pendekatan yang digunakan untuk merangkul Generasi Z dan Alfa pun dituntut untuk beradaptasi. Penanaman nilai-nilai tradisi kini mulai disesuaikan dengan media favorit anak muda agar pesan moral yang disampaikan dapat diterima tanpa terkesan menggurui.

Terkait strategi edukasi modern tersebut, Prof. Nurhayati menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai inovasi yang digagas anak muda saat ini. "Penyampaian nilai ini memang tidak semudah yang kita bayangkan karena anak-anak tumbuh menjadi bagian dari dunia digital. Namun, kreativitas anak muda sekarang luar biasa, seperti melalui lomba-lomba, pembuatan situs web berbasis Lontara, hingga pembuatan jargon-jargon berbahasa Bugis atau Makassar dalam huruf Lontara yang terbukti mampu memengaruhi orang lain secara positif," tambahnya.

Sebagai Closing Statmen, Prof. Nurhayati menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menyelamatkan aksara dan generasi bangsa. Pimpinan sekolah, penentu kebijakan, hingga pemerintah daerah diharapkan hadir merumuskan regulasi konkret yang mendukung pelestarian Lontara, sehingga warisan budaya ini tetap hidup dan membanggakan di mata dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....