Tradisi Pemakaman Suku Kajang Ammatoa di Sulawesi Selatan

  • 29 Jul 2026 11:33 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Di kutip dari Katu, Samiang (2001). Pasang ri Kajang: Kajian tentang Sistem Kepercayaan Suku Kajang. Makassar: Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin, menyebutkan Filosofi Kamase-masea dan Pasang ri Kajang Prinsip hidup mendasar yang dianut oleh masyarakat Kajang dikenal dengan sebutan Kamase-masea, yang secara harfiah berarti hidup dalam kesederhanaan, keprihatinan, dan membatasi diri dari hawa nafsu duniawi. Prinsip ini berakar kuat pada Pasang ri Kajang, yakni kumpulan pesan, amanat, dan hukum tak tertulis yang menjadi kompas moral dan spiritual mereka.

Pandangan hidup Kamase-masea ini tidak hanya diejawantahkan dalam rutinitas keseharian, tetapi juga sangat kental terasa saat mereka menghadapi kematian. Bagi masyarakat Kajang, kematian bukanlah sesuatu yang mengerikan, melainkan sebuah fase transisi alami—sebuah kepulangan sejati kepada Sang Pencipta (Tu Rie' A'rana). Karena manusia lahir ke bumi tanpa membawa apa-apa, maka saat berpulang pun ia harus kembali dalam keadaan yang sama: suci, murni, dan tanpa beban duniawi.

Prosesi Pemakaman : Cepat, Syahdu, dan Tanpa Beban, berbeda dengan beberapa tradisi di daerah lain di Sulawesi Selatan yang kerap menggelar upacara kematian secara megah dan memakan waktu berhari-hari, prosesi pemakaman di Kajang Dalam sangat mengutamakan kecepatan dan kepraktisan. Beberapa pilar utama dalam pemakaman mereka meliputi:

Penyelenggaraan yang Cepat: Jenazah harus segera dimakamkan, pantang dibiarkan lewat dari 24 jam. Aturan ini diterapkan agar roh orang yang meninggal segera menemukan kedamaian dan keluarga tidak larut dalam duka yang membebani. Penolakan Upacara Megah: Suku Kajang melarang keras pemotongan puluhan atau ratusan hewan kurban hanya demi gengsi atau status sosial. Duka cita tidak boleh ditambah dengan beban utang adat yang mengikat keluarga ahli waris di kemudian hari.

Penggunaan Kain Kafan: Karena masyarakat Kajang menjalankan ajaran yang berakulturasi dengan syariat Islam (kerap disebut Islam Patuntung), jenazah dimandikan, disalatkan, dan dibungkus menggunakan kain kafan putih sederhana sesuai dengan tuntunan agama.

Makna Filosofis Warna Hitam dalam Kedukaan

Meski jenazah dibalut dengan kain kafan putih, para pelayat dan keluarga yang ditinggalkan wajib mengenakan pakaian serba hitam. Warna hitam adalah identitas sejati masyarakat Kajang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat berduka. Dalam konteks kedukaan, warna hitam (Le'leng) melambangkan berbagai makna mendalam:

Kesetaraan Manusia: Warna hitam menghapus batas antara si kaya dan si miskin. Di hadapan Tuhan dan hukum adat, semua manusia berkedudukan setara.

Siklus Kegelapan (Awal dan Akhir): Hitam mengingatkan manusia pada kegelapan rahim ibu sebelum dilahirkan, dan gelapnya liang lahat setelah kematian. Ini adalah simbolisasi murni dari siklus awal dan akhir eksistensi manusia.

Keteguhan Hati: Sebagai warna yang tidak mudah kotor, hitam mencerminkan keteguhan dan keikhlasan masyarakat Kajang dalam mempertahankan kemurnian adat Kamase-masea.

Makam yang Menyatu Kembali dengan Alam

Bentuk fisik makam di kawasan Ammatoa akan mengejutkan bagi mereka yang terbiasa melihat pusara modern. Di sana, Anda tidak akan menemukan makam berlapis keramik, marmer, atau undakan semen yang megah. Makam masyarakat Kajang hanya berupa gundukan tanah yang diselaraskan dengan kontur alam, ditandai dengan batu kali biasa atau potongan kayu sebagai nisan.

Mereka meyakini bahwa raga manusia yang tercipta dari tanah harus dibiarkan kembali menyatu dengan tanah secara alami dan secepat mungkin. Membangun makam permanen dari semen atau batu buatan dianggap sebagai wujud kesombongan yang menghalangi proses peleburan raga ke pelukan bumi, serta wujud pengingkaran terhadap prinsip kesederhanaan.

Refleksi untuk Masyarakat Modern

Tradisi kematian Suku Kajang memberikan refleksi yang sangat berharga bagi manusia modern. Di saat banyak budaya menjadikan upacara kematian sebagai ajang pembuktian prestise yang sering kali memicu krisis finansial bagi keluarga, Suku Kajang justru mengajarkan keikhlasan dan esensi sejati dari perpisahan. Mereka membuktikan bahwa penghormatan tertinggi kepada mereka yang telah tiada bukanlah melalui monumen kemewahan, melainkan lewat lantunan doa, kesederhanaan, dan pengembalian raga ke haribaan alam dengan penuh kedamaian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....