Makna Simbolis dan Filosofi Mendalam Ritual Mappacci Bugis Makassar
- 27 Jul 2026 09:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Prosesi Mappacci merupakan salah satu ritual adat pernikahan suku Bugis yang sarat akan makna dan tradisi luhur. Acara pembersihan diri yang dilakukan pada malam sebelum akad nikah ini bertujuan untuk mensucikan jiwa dan raga calon pengantin. Setiap tahap dalam ritual ini dipenuhi dengan nilai-nilai spiritual dan harapan baik bagi masa depan rumah tangga yang akan dibangun.
Keindahan tradisi Mappacci tidak hanya terletak pada tata cara pelaksanaannya, tetapi juga pada simbolisme dari perlengkapan yang digunakan. Dikutip dari website Wedding Market, setiap elemen yang dihadirkan dalam prosesi Mappacci memiliki filosofi yang sangat mendalam. Kehadiran benda-benda ini menjadi doa serta harapan tersirat dari keluarga besar bagi kedua calon mempelai.
Salah satu perlengkapan utama yang wajib ada adalah lilin yang menyala. Kehadiran kobaran api kecil dari lilin ini menjadi simbol penerangan yang diharapkan dapat senantiasa mengarahkan kehidupan pernikahan pasangan tersebut menuju jalan yang penuh dengan keberkahan dan kejelasan arah.
Selanjutnya, beras (benno) yang dimasak hingga mengembang juga dipersiapkan dalam tempat khusus. Kehadiran benno ini melambangkan rezeki yang berlimpah serta harapan akan kehidupan yang sejahtera dan mapan bagi pasangan pengantin dalam menjalani hari-hari mendatang.
Penataan perlengkapan Mappacci juga melibatkan bantal (angkaluneng) sebagai alas penopang tangan calon pengantin. Penggunaan bantal ini menunjukkan bentuk penghormatan tinggi terhadap calon mempelai, sekaligus menjadi simbol penegasan agar martabat dan kehormatan keluarga senantiasa dijaga dalam ikatan pernikahan.
Di atas bantal tersebut, diletakkan sarung yang disusun hingga tujuh lapisan. Susunan sarung berlapis ini melambangkan keteguhan dalam menjaga harga diri, kesucian, dan kehormatan diri serta pasangan selama mengarungi kehidupan berumah tangga.
Tidak ketinggalan, alas daun pisang diletakkan sebagai wadah utama perlengkapan tersebut. Daun pisang dipilih sebagai simbol kehidupan yang terus berkesinambungan dan pantang menyerah, layaknya daun pisang muda yang selalu tumbuh menggantikan daun yang telah tua.
Selain itu, terdapat pula daun nangka (panasa) yang diselipkan dalam susunan perlengkapan Mappacci. Kata panasa memiliki kemiripan bunyi dengan kata pasa-pasa dalam bahasa Bugis yang bermakna kesungguhan, sehingga daun ini melambangkan cita-cita luhur dan tekad bulat yang harus diraih bersama dalam pernikahan.
Sebagai puncaknya, daun inai (pacci) yang telah dihaluskan ditorehkan ke telapak tangan calon pengantin oleh para sesepuh. Tumbuhan pacci ini menjadi simbol utama kesatuan jiwa, kebersihan hati, dan kerukunan hidup berumah tangga yang menjadi inti serta penutup manis dari seluruh rangkaian prosesi Mappacci.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....