Tradisi Mattale Undangen Bugis yang Tak Lekang oleh Zaman
- 15 Jun 2026 10:55 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Di tengah gempuran digitalisasi yang mengubah pola komunikasi masyarakat, sebuah tradisi leluhur dalam pernikahan adat Bugis bernama Mattale’ Undangan terbukti masih eksis. Tradisi mengantarkan undangan pernikahan secara langsung dari rumah ke rumah ini bukan sekadar urusan formalitas penyampaian informasi hari bahagia. Lebih dari itu, prosesi ini sarat akan nilai pangadereng (sistem norma adat) yang mengedepankan penghormatan, etika tinggi, dan pemuliaan terhadap tamu yang diundang oleh pihak keluarga calon mempelai.
Bagi masyarakat Bugis, mattale’ undangen merupakan cerminan dari identitas sosial dan perekat silaturahmi. Mengunjungi kediaman kerabat, sahabat, hingga tokoh masyarakat secara tatap muka dinilai sebagai bentuk penghargaan tertinggi. Dalam praktiknya, tata cara ini sering kali melibatkan rombongan keluarga dengan membawa perlengkapan khusus seperti bosara atau wadah tradisional lainnya, menunjukkan bahwa kehadiran sang tamu sangat dinantikan secara tulus.
Meskipun zaman telah bergeser ke arah modern dan serba praktis, prinsip hidup ini tetap dipegang teguh oleh sebagian warga urban. Salah satunya adalah Mas'ud, seorang warga keturunan Bugis yang kini menetap di Kota Makassar. Di tengah kesibukan kota besar, ia menolak melupakan akar budayanya dan tetap memilih jalur tradisional ini sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai luhur leluhur yang menekankan rasa saling menghargai.
Kepada RRI, Mas'ud menegaskan betapa pentingnya menjaga tradisi ini agar tidak tergerus zaman, terutama bagi rumpun keluarga yang berasal dari daerah dengan adat yang kuat.
"Saya sebagai orang Bugis Wajo dan keluarga juga orang Sidrap, jadi masalah undangan itu masih mengantarkan undangan ke beberapa keluarga, sahabat, atau pejabat itu kita tidak boleh tinggalkan. Itu tradisi adat kita, dengan menggunakan Songko recca, sebagai orang Bugis. Salah satu maknanya itu menghormati dan menghargai yang diantarkan undangan. Memang praktis kalau digital, tapi kami sebagai orang bugis menjunjung tinggi nilai sipakalebbi ( Menghargai)", ujar Mas'ud.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa efisiensi undangan digital lewat aplikasi pesan singkat tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan batin dan kedalaman rasa hormat dari sebuah pertemuan fisik. Dalam adat Bugis, struktur dan simbol yang dibawa saat mengantar undangan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Penggunaan simbol status atau tata cara tertentu saat mattale Undangeng, menandakan keseriusan dan bobot kehormatan yang diberikan kepada calon tamu undangan.
Namun, realitas hari ini menunjukkan tantangan yang tidak mudah dalam mempertahankan pangadereng tersebut. Banyak generasi muda yang kini lebih memilih jalur instan lewat media sosial demi menghemat waktu dan biaya. Fenomena beralihnya kebiasaan ini memicu kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai kesopanan dan penghargaan kultural yang telah dibangun oleh para pendahulu sejak ratusan tahun lalu.
Melihat fenomena pergeseran budaya di lingkungan sekitar, Mas'ud menyayangkan sikap generasi masa kini yang perlahan mulai abai dan meninggalkan warisan berharga ini demi kepraktisan teknologi semata. "Sangat disayangkan melihat generasi masa kini perlahan mulai abai dan meninggalkan warisan berharga ini hanya demi mengejar kepraktisan teknologi semata," ujar Mas'ud.
Melalui kesadaran kolektif, tradisi Mattale Undangan diharapkan tidak sekadar menjadi catatan masa lalu di buku-buku sejarah. Diperlukan sinergi antara orang tua, lembaga adat, dan media massa seperti RRI untuk terus mengedukasi generasi muda. Menjaga tradisi di era modern bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan sebuah komitmen untuk tetap menaruh rasa hormat dan memanusiakan sesama melalui nilai-nilai luhur Siri' na Pacce.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....