Penulis Takalar Hadirkan Buku Dwi Bahasa dan Aplikasi Sastra Makassar

  • 25 Jul 2026 19:08 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Masih minimnya materi pembelajaran yang mengangkat potensi budaya lokal Sulawesi Selatan. Selama ini, buku pelajaran lebih banyak memuat contoh dan pembahasan dari daerah lain, sementara sejarah, budaya, bahasa, maupun kearifan lokal masyarakat Makassar dan Bugis masih jarang dijadikan materi pembelajaran.

Gr. Abdul Jalil, S.Pd., M.H., M.M. - RELIMA PERPUSNAS RI Lokus Takalar 2025 & 2026 dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar edisi Jumat, 24 Juli 2026, mengungkapkan bahwa hingga kini dirinya telah menulis sekitar delapan hingga dua belas judul buku Dwi Bahasa. Sebagian besar buku tersebut di distribusikan ke sekolah, perpustakaan sekolah, taman baca, dan komunitas literasi di Kabupaten Takalar.

Selain itu, setiap kali diundang sebagai narasumber di sekolah maupun kegiatan literasi, ia selalu membawa beberapa buku untuk dibagikan kepada peserta yang aktif menjawab pertanyaan. "Model distribusi saya memang seperti itu. Saya ingin buku ini sampai langsung kepada para pelajar," jelasnya.

Walaupun demikian, Abdul Jalil mengaku belum mendorong bukunya menjadi buku ajar utama. Baginya, yang terpenting saat ini adalah menjadikan buku tersebut sebagai referensi yang dapat memperkaya materi pembelajaran budaya lokal. Salah satu buku yang ditulisnya membahas Songkok Guru, ikon budaya Kabupaten Takalar. Menurutnya, ironis jika daerah yang dikenal sebagai penghasil Songkok Guru justru minim referensi tertulis mengenai sejarah, filosofi, dan proses pembuatannya.

"Kalau tidak ada literatur, suatu saat generasi muda bisa kehilangan pengetahuan tentang budaya tersebut. Mereka mungkin mengenal Songkok Guru, tetapi tidak memahami sejarah maupun cara pembuatannya, Oleh karena itu, ia menilai dokumentasi dalam bentuk buku menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman”, tuturnya.

Selain menerbitkan buku cetak, Abdul Jalil juga mulai mengembangkan literasi budaya berbasis digital. Seluruh buku Dwi Bahasa yang telah diterbitkan kini tersedia dalam bentuk e-book dan telah disebarluaskan kepada berbagai instansi pendidikan serta masyarakat. Tidak hanya itu, ia juga mengembangkan dokumentasi budaya dalam bentuk film, audio, dan audiovisual agar lebih mudah dipahami oleh generasi muda.

Menurutnya, berbagai cerita rakyat, dongeng, serta tradisi lisan Makassar perlu dikemas dalam format digital sehingga dapat menjadi media pembelajaran yang menarik di tingkat SD, SMP, hingga SMA. Inovasi terbaru yang tengah dikembangkannya adalah aplikasi berbasis Android yang akan tersedia di Play Store. Aplikasi tersebut memuat sastra lisan Makassar lengkap dengan animasi, audio, dan materi pembelajaran interaktif. "Kami sedang menyelesaikan aplikasi yang berisi sastra lisan Makassar. Insya Allah akan diluncurkan pada Agustus 2026 mendatang”, katanya.

Aplikasi tersebut terdiri atas dua fitur utama, yakni Sabula, yang memuat Pakkio Bunting atau tradisi sastra lisan dalam prosesi pernikahan, serta Sabuli, yang berisi Aru Makassar, yaitu sastra lisan yang digunakan untuk menyambut tamu kehormatan.

Abdul Jalil menegaskan bahwa tujuan utama penerbitan buku Dwi Bahasa bukan sekadar memperkenalkan bahasa Makassar, melainkan juga seluruh objek pemajuan kebudayaan, mulai dari cerita rakyat, tradisi lisan, hingga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.

Menutup perbincangan, Abdul Jalil menegaskan bahwa pelestarian bahasa dan aksara Makassar bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun lembaga bahasa, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. "Kehadiran buku Dwi Bahasa diharapkan menjadi salah satu upaya menjaga bahasa dan aksara Makassar agar tetap hidup di tengah generasi muda, tanpa menghilangkan wawasan kebangsaan maupun kemampuan beradaptasi di era global”, pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....