Nelayan Tradisional Andalkan Kearifan Lokal Hadapi Perubahan Zaman

  • 08 Jun 2026 19:54 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya sektor usaha yang beralih ke ranah digital, profesi nelayan tetap menjadi pilihan hidup bagi sebagian masyarakat pesisir. Bagi mereka, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bagian dari budaya dan warisan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Direktur Utama PALANTARA SULSEL Abdullah Daeng Sirua dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Minggu, 07 Juni 2026, menjelaskan masyarakat nelayan memiliki prinsip dan kebiasaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka, meskipun berbagai sektor usaha baru terus bermunculan dan menjadi populer, banyak nelayan yang tetap memilih melaut karena profesi tersebut telah menjadi bagian dari identitas dan budaya keluarga mereka.

“Menjadi nelayan bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga melanjutkan tradisi yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur. Dari kakek, ayah, hingga anak cucu, profesi ini terus dijalankan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas dan budaya masyarakat pesisir,” ujarnya.

Abdullah atau sering di sapa Dullah mengaku bahwa dirinya hingga kini masih aktif turun ke laut bersama para nelayan meskipun memiliki berbagai kesibukan di darat. Menurutnya, kedekatan dengan laut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.

“Bagaimanapun kondisi di darat, kami tetap merindukan suasana laut. Sebagai anak nelayan, ada ikatan emosional yang kuat dengan kehidupan maritim. Pesan-pesan orang tua dan leluhur tentang laut tetap kami pegang hingga sekarang, dari laut saya belajar tentang kerja keras, kesabaran, keberanian menghadapi tantangan, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam”, katanya.

Lebih lanjut Dullah menambahkan keberadaan usaha penangkapan ikan juga menjadi sarana untuk mendukung kehidupan para nelayan lainnya. Melalui kerja sama dan kebersamaan, mereka saling membantu meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok nelayan. Menurutnya, istilah nelayan tradisional saat ini masih relevan dan memiliki definisi yang jelas. Kategori nelayan tradisional umumnya ditentukan berdasarkan jenis kapal dan alat tangkap yang digunakan.

Nelayan yang menggunakan kapal berbahan kayu dan peralatan tangkap sederhana masih termasuk dalam kategori nelayan tradisional. Kapal-kapal tersebut umumnya memiliki kapasitas antara GT 1 hingga GT 30 sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, nelayan yang menggunakan kapal berbahan besi dengan peralatan modern dan sistem mekanis yang lebih canggih tidak lagi masuk dalam kategori nelayan tradisional.

“Perbedaan utamanya terletak pada alat dan cara kerja. Nelayan tradisional masih banyak mengandalkan tenaga manusia. Saat menjaring ikan, memancing, hingga menarik hasil tangkapan, sebagian besar masih dilakukan dengan tangan, Sementara itu, nelayan modern memanfaatkan berbagai teknologi dan peralatan yang lebih canggih, seperti mesin kapal, alat navigasi, hingga perangkat pendeteksi keberadaan ikan. Penggunaan teknologi tersebut memungkinkan proses penangkapan menjadi lebih cepat, efisien, dan menjangkau wilayah perairan yang lebih luas” jelasnya.

Aktivitas yang mengandalkan tenaga membuat mereka tetap aktif dan memiliki kondisi tubuh yang relatif bugar. Selain menjaga kebugaran fisik, profesi nelayan juga membentuk ketangguhan mental, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai kondisi alam yang tidak menentu. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola ekonomi masyarakat, keberadaan nelayan tradisional tidak hanya berperan sebagai penopang ketahanan pangan, tetapi juga sebagai penjaga kearifan lokal dan warisan budaya maritim yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....