Nilai Sipakatau Ditanamkan Guru Melalui Praktikum Biologi Siswa
- 07 Jun 2026 08:39 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Nilai-nilai budaya lokal Makassar pada dasarnya dapat diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran di sekolah. Keberhasilannya tidak bergantung pada mata pelajaran tertentu, melainkan pada kreativitas guru dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Guru SMAN 20 Gowa Syarifuddin Munier, S.Pd., M.Si. dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 5 Juni 2026. Ia Menjelaskan l tidak ada mata pelajaran yang secara khusus menjadi satu-satunya wadah untuk menanamkan budaya lokal.
Menurutnya, guru yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya akan selalu menemukan cara untuk memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pembelajaran. “Mata pelajaran yang paling dekat tentu seperti Pendidikan Pancasila, sejarah, antropologi, Bahasa Indonesia, pendidikan jasmani, hingga seni budaya. Namun sebenarnya semua mata pelajaran bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai budaya lokal,” ujarnya.
Menariknya, Syarifuddin yang merupakan guru mata pelajaran Biologi di SMAN 20 Gowa mengaku telah lama menerapkan integrasi budaya lokal dalam pembelajaran sains. Ia menilai bahwa nilai-nilai budaya dapat menjadi sarana efektif untuk membentuk karakter peserta didik, bahkan saat mereka mempelajari materi yang bersifat ilmiah.
“Salah satu contoh yang sering saya terapkannya adalah ketika siswa/siswi melakukan praktikum menggunakan mikroskop. Dalam kegiatan tersebut, siswa/siswi harus bekerja sama menggunakan peralatan yang sama dengan kemampuan yang berbeda-beda. Situasi tersebut menjadi kesempatan bagi saya untuk menanamkan nilai-nilai budaya lokal Makassar”, terang Syarifuddin.
Lebih lanjut Syarifuddin menjelaskan sebelum praktikum dimulai, Ia mengingatkan siswa/siswi tentang pentingnya kerja sama, saling menghargai, dan tidak mementingkan diri sendiri sebagaimana yang diajarkan dalam budaya masyarakat Makassar. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat gotong royong dan kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
“Dalam kegiatan praktikum akan terlihat dengan jelas bagaimana nilai budaya tersebut diwujudkan. Siswa/Siswi yang saling membantu menunjukkan nilai sipakatau (saling memanusiakan), siswa yang saling mengingatkan mencerminkan nilai sipakainga’ (saling mengingatkan), sedangkan siswa/siswi yang memberikan kesempatan kepada teman untuk menggunakan alat praktik menunjukkan nilai sipakalabbiri’ (saling menghormati dan memuliakan). Melalui praktik seperti ini, siswa belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kemampuan bekerja sama dan menghargai orang lain,” jelasnya.
Syarifuddin menambahkan bahwa penerapan budaya lokal dalam pembelajaran memberikan dampak nyata terhadap pembentukan karakter siswa. Perubahan yang paling terlihat adalah meningkatnya rasa hormat, empati, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya mengamati bahwa siswa/siswi yang sering mendapatkan penguatan nilai budaya lokal cenderung menunjukkan sikap yang lebih santun terhadap guru maupun sesama teman. Mereka tidak hanya menerima nasihat secara formal, tetapi juga memahami makna dan filosofi yang terkandung dalam budaya yang diwariskan oleh leluhur mereka”, ucap Syarifuddin.
Melalui integrasi budaya lokal dalam pembelajaran, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang membentuk generasi muda yang berkarakter, berempati, dan tetap menghargai identitas budayanya di tengah arus modernisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....